Diet Nabati Bernama PHD: Risiko Sakit Jantung pada Wanita Pascamenopause Turun Hingga 28%
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan London memvonis Mitch Winehouse membayar hampir ยฃ1 juta kepada dua sahabat Amy setelah gugatannya dinyatakan lemah dan tidak berdasar.
- Hakim menyebut Mitch sengaja mengajukan tuntutan agresif untuk menekan kedua wanita yang setia mendiang penyanyi, merusak reputasi dan kesehatan mereka.
- Kasus ini menyoroti konflik warisan selebritas yang kerap berujung pada litigasi mahal dan keretakan hubungan personal.

Wanita pascamenopause yang konsisten menjalani Planetary Health Diet (PHD) memiliki risiko penyakit kardiovaskular hampir sepertiga lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang mengikuti pola makan tersebut, demikian temuan studi terbaru yang dipresentasikan dalam konferensi NUTRITION 2026 milik American Society of Nutrition.
PHD merupakan pola makan berbasis ilmiah yang tidak hanya dirancang untuk meningkatkan kesehatan manusia, tetapi juga mengurangi dampak lingkungan dari produksi pangan. Komposisinya didominasi oleh biji-bijian utuh, buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan legum, dengan konsumsi ikan, susu, dan daging dalam jumlah sedang atau kecil. Secara prinsip, PHD memiliki banyak kemiripan dengan diet Mediterania dan diet DASH yang selama ini dikenal sebagai pelindung jantung.
Dalam studi tersebut, peneliti menganalisis data dari hampir 67.000 wanita pascamenopause yang berpartisipasi dalam Womenโs Health Initiative. Mereka diikuti selama rata-rata 8,2 tahun, dan selama periode itu tercatat 5.033 kejadian kardiovaskular. Setelah memperhitungkan faktor perancu seperti usia, status merokok, aktivitas fisik, dan indeks massa tubuh, wanita dengan skor kepatuhan PHD tertinggi memiliki risiko penyakit kardiovaskular 28% lebih rendah, risiko penyakit jantung koroner 34% lebih rendah, risiko stroke 22% lebih rendah, dan risiko gagal jantung 31% lebih rendah dibandingkan kelompok dengan kepatuhan terendah.
Thomas M. Holland, asisten profesor di RUSH Institute for Healthy Aging, Chicago, yang tidak terlibat dalam studi, menilai temuan ini penting karena risiko kardiovaskular pada wanita meningkat drastis setelah menopause akibat perubahan kadar estrogen. โPenelitian ini menunjukkan bahwa modifikasi pola makan tetap menjadi alat yang ampuh untuk memperbaiki kesehatan jantung bahkan di usia lanjut,โ ujarnya. Namun, Eamon Laird dari Atlantic Technological University Sligo, Irlandia, mengingatkan bahwa hasil ini masih berupa abstrak dan belum diterbitkan di jurnal peer-review, serta sifat observasionalnya belum bisa memastikan hubungan sebab-akibat.
Konteks Indonesia: Peluang bagi Wanita di Atas Usia 50 Tahun
Di Indonesia, penyakit jantung koroner masih menjadi penyebab kematian tertinggi, dan prevalensinya meningkat pada kelompok usia lanjut. Wanita pascamenopause di Indonesia kerap mengalami akses terbatas terhadap informasi gizi yang tepat serta kebiasaan konsumsi tinggi garam dan lemak jenuh. PHD menawarkan alternatif yang relatif mudah diadaptasi karena menekankan pada bahan pangan lokal seperti tahu, tempe, sayuran hijau, dan buah-buahan tropis. Namun, tantangan adopsi PHD di Indonesia antara lain mahalnya harga kacang-kacangan impor dan dominasi pola makan tinggi karbohidrat olahan. Meski begitu, studi ini menekankan bahwa peningkatan skor PHD meskipun hanya 10 poin sudah memberikan manfaat signifikan, sehingga perubahan kecil namun konsisten lebih realistis daripada perubahan drastis.
Para ahli sepakat bahwa temuan ini memperkuat bukti bahwa pola makan nabati memberikan perlindungan kardiovaskular melalui serat, antioksidan, dan lemak tak jenuh yang mampu menekan inflamasi, memperbaiki fungsi pembuluh darah, serta menurunkan kolesterol LDL. Bagi kelompok usia lanjut, manfaat metabolik ini sangat krusial karena perubahan distribusi lemak tubuh dan resistensi insulin yang sering menyertai penuaan.
Ke depan, penelitian lanjutan yang lebih ketat, misalnya uji acak terkontrol, tetap diperlukan untuk memastikan efektivitas PHD secara langsung. Laird menambahkan bahwa meskipun hasil awal menggembirakan, masyarakat sebaiknya tidak buru-buru mengadopsi PHD secara ekstrem tanpa konsultasi dengan tenaga gizi. Pertanyaan yang masih menggantung: sejauh mana pola makan ini bisa diintegrasikan ke dalam kebiasaan kuliner Nusantara tanpa mengorbankan keberagaman hayati lokal?



