Fenomena 'Salad Bar' Ekstremisme: Ancaman Baru yang Lebih Sulit Dideteksi dan Direhabilitasi
Baca dalam 60 detik
- Ekstremisme 'salad bar' atau Composite Violent Extremism (CoVE) memungkinkan individu meramu ideologi dari berbagai sumber, termasuk yang saling bertentangan, sehingga sulit diprediksi.
- Dalam 10 bulan terakhir, Singapura menangani tiga kasus CoVE pada remaja, menunjukkan pergeseran pola radikalisasi yang memanfaatkan algoritma media sosial.
- Pendekatan rehabilitasi konvensional dinilai tidak lagi memadai; diperlukan strategi multidisiplin yang melibatkan psikolog, pendidik, dan keluarga.

Dalam sepuluh bulan terakhir, Departemen Keamanan Dalam Negeri Singapura (ISD) menangani setidaknya tiga kasus ekstremisme 'salad bar'—sebuah fenomena radikalisasi di mana individu meracik sendiri keyakinan ekstrem dari berbagai sumber, termasuk ideologi yang saling bertentangan seperti pendukung ISIS dan paham sayap kanan. Para ahli memperingatkan bahwa pola baru ini, yang dikenal sebagai Composite Violent Extremism (CoVE), membuat deteksi dan rehabilitasi jauh lebih rumit dibandingkan radikalisasi tradisional.
Istilah 'salad bar' dipopulerkan oleh mantan Direktur FBI Christopher Wray untuk menggambarkan individu yang memilih dan memadukan kepercayaan dari berbagai narasi, alih-alih menganut satu ideologi tunggal. Di Inggris, fenomena serupa disebut Mixed, Unstable and Unclear (MUU) extremism. Di Singapura, kasus pertama terungkap pada September tahun lalu ketika seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun ditangani berdasarkan Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri (ISA). Setelah itu, dua kasus lagi muncul: seorang pemuda 19 tahun pada Juni, dan pekan lalu seorang remaja 14 tahun yang merencanakan serangan di sekolah.
Menurut Profesor Rohan Gunaratna dari S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), individu yang terdorong oleh CoVE mengutamakan kekerasan, bukan ideologi. "Mereka akan menyesuaikan ideologi agar sesuai dengan tindakan mereka," ujarnya. Associate Professor Razwana Begum dari Singapore University of Social Sciences menambahkan bahwa radikalisasi kini tidak lagi berasal dari satu gerakan ideologis, melainkan dari konspirasi, sentimen anti-pemerintah, kebencian rasial atau agama, peristiwa geopolitik, komunitas daring, dan kekaguman terhadap pelaku serangan sebelumnya.
Kasus terbaru melibatkan remaja 14 tahun yang terpapar pemikiran pro-ISIS, ekstremisme sayap kanan (termasuk narasi anti-Semit dan neo-Nazi), keyakinan supremasi kulit putih, serta konten kekerasan dari komunitas True Crime daring. Kenneth Yeo, peneliti di RSIS, menekankan bahwa sifat 'pilih-pilih' dari ideologi ini meningkatkan bahaya karena tidak ada sumber otoritatif tunggal yang bisa dilawan dengan narasi tandingan. "Tidak ada kebutuhan akan koherensi," katanya.
Kepala RSIS Kumar Ramakrishna menegaskan bahwa CoVE tidak bisa dihadapi hanya dengan pendekatan kontra-ideologis karena strukturnya yang tidak jelas. Ia membandingkannya dengan penanganan Jemaah Islamiyah awal 2000-an, di mana kelompok rehabilitasi agama bisa membongkar pandangan ekstrem dengan pemahaman arus utama. "Pendekatan itu tidak cukup untuk campuran ide yang kacau di CoVE," katanya. Selain itu, algoritma media sosial dan kecerdasan buatan generatif mempercepat paparan terhadap berbagai narasi yang saling memperkuat.
Di Indonesia, fenomena CoVE juga mulai terlihat. Menurut data yang dikutip para ahli, terdapat lebih dari 100 kasus di Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Indonesia telah mengidentifikasi pola radikalisasi daring yang semakin cair, di mana individu tidak lagi terikat pada satu kelompok ideologi. Hal ini menuntut pendekatan baru dalam deradikalisasi, termasuk peningkatan literasi digital dan pemahaman geopolitik yang seimbang.
Associate Professor Razwana menekankan bahwa rehabilitasi CoVE memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan psikolog, konselor, pekerja sosial, pendidik, dan keluarga. "Tidak ada satu profesi pun yang bisa menangani semua faktor yang berkontribusi pada radikalisasi," ujarnya. Dr. Joachim Lee, konselor agama sukarelawan, menambahkan bahwa remaja lebih rentan terhadap manipulasi daring tetapi juga lebih responsif terhadap rehabilitasi dini. "Masa remaja adalah periode perkembangan otak yang signifikan," katanya.
Keberhasilan rehabilitasi, menurut Assoc Prof Razwana, tidak diukur dari kemampuan seseorang menghafal ideologi yang 'benar', melainkan dari penolakan terhadap kekerasan, reintegrasi ke masyarakat, dan ketahanan menghadapi tantangan masa depan. Prof Gunaratna menyarankan Singapura untuk belajar dari kasus di negara lain, namun tetap mengembangkan respons yang sesuai dengan lingkungan uniknya. "Ini adalah ancaman global dan regional yang persisten," katanya.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah otoritas keamanan dan masyarakat beradaptasi dengan cepat menghadapi radikalisasi yang semakin personal dan tidak terduga ini? Ataukah fenomena 'salad bar' akan terus melahirkan pelaku kekerasan baru yang sulit diidentifikasi sebelum terlambat?



