Betelgeuse Tak Sendirian: Bintang Raksasa Itu Ternyata Punya Pasangan
Baca dalam 60 detik
- Untuk pertama kalinya, astronom berhasil menangkap gambar langsung bintang pendamping Betelgeuse, mengonfirmasi sistem biner yang telah lama diduga.
- Keberadaan pasangan ini mengubah perkiraan waktu ledakan supernova Betelgeuse, yang kini tak bisa lagi diprediksi secara pasti.
- Penemuan ini membuka peluang baru bagi riset evolusi bintang masif di Indonesia, terutama dalam kolaborasi observasi internasional.

Selama ribuan tahun, Betelgeuse dikenal sebagai salah satu bintang paling terang di langit malam—raksasa merah di rasi Orion yang kerap berkedip dan dipercaya siap meledak kapan saja. Namun, penelitian terbaru mengungkap fakta mengejutkan: bintang raksasa itu ternyata tidak sendirian. Sebuah bintang pendamping berhasil diabadikan secara langsung oleh Very Large Telescope milik European Southern Observatory di Cile, mengakhiri spekulasi yang telah berlangsung selama satu abad.
Tim astronom yang dipimpin Miguel Montargès dari Laboratorium Instrumentasi dan Riset Astrofisika (LIRA) Observatorium Paris mempublikasikan temuan ini di jurnal Astronomy & Astrophysics. Mereka memastikan bahwa Betelgeuse dan bintang pendampingnya terikat secara gravitasi dalam sistem biner, dengan jarak orbit setara rentang orbit Saturnus dari Matahari—sekitar 8,8 kali jarak Bumi-Matahari. "Betelgeuse telah diamati sepanjang sejarah, bahkan tergambar dalam lukisan prasejarah. Namun, baru sekarang kita menemukan karakteristik fundamental ini," ujar Montargès.
Betelgeuse sendiri memiliki massa 16,5 hingga 19 kali Matahari, dengan ukuran fisik 750–850 kali lebih besar. Jika ia menggantikan posisi Matahari di tata surya, permukaannya akan melampaui orbit Jupiter. Sementara itu, bintang pendampingnya juga tergolong besar: massa 2,6–3,1 kali Matahari dan diameter 1,8–2 kali lebih besar. Keduanya berada sekitar 500–600 tahun cahaya dari Bumi.
Penemuan ini memiliki implikasi besar terhadap pemahaman evolusi bintang masif. Sebelumnya, variasi kecerahan Betelgeuse dianggap akibat awan debu yang menghalangi cahayanya. Kini, interaksi dengan bintang pendamping menjadi faktor baru yang bisa mempercepat atau justru menunda ledakan supernova. "Saat dianggap bintang tunggal, ledakan diperkirakan terjadi 10.000 hingga 100.000 tahun lagi. Sekarang, saya tidak tahu kapan akan meledak," kata Montargès. "Interaksi kedua bintang bisa mengubah segalanya."
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi riset astronomi. Meski belum memiliki teleskop sebesar VLT, para astronom Indonesia dapat berkontribusi melalui analisis data dan kolaborasi internasional. Observatorium Bosscha di Lembang, misalnya, bisa dilibatkan dalam pemantauan variabilitas bintang masif. "Ini momentum untuk memperkuat riset astrofisika bintang di Tanah Air," ujar seorang astronom dari Institut Teknologi Bandung yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, para ilmuwan akan fokus mempelajari interaksi dinamis antara Betelgeuse dan pasangannya. Pertanyaan besarnya: akankah supernova terjadi lebih cepat dari perkiraan awal, atau justru tertunda selama ribuan tahun? Yang jelas, misteri Betelgeuse masih panjang—dan kini semakin menarik untuk diungkap.



