ASEAN Berpeluang Jadi Pusat Ajang Internasional, Kolaborasi Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- ASEAN berpotensi menjadi destinasi utama penyelenggaraan acara internasional jika negara anggota menyelaraskan jadwal pameran dan konferensi.
- Jarak antarkota di ASEAN yang dekat, seperti Singapura-Jakarta hanya 1,5 jam, memungkinkan peserta menghadiri beberapa acara dalam satu perjalanan.
- Penyelenggaraan Seabef 2026 dan IBEM 2026 di Jakarta menjadi langkah konkret Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai hub acara bisnis regional.

ASEAN dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi utama penyelenggaraan ajang internasional, asalkan negara-negara anggota mampu berkolaborasi dan menyelaraskan jadwal pameran serta konferensi. Gagasan ini mengemuka dalam Southeast Asia Business Events Forum (Seabef) 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (29/7).
Direktur Kawasan Badan Pariwisata Singapura (STB) untuk Indonesia, Mohamed Hafez Marican, menyebutkan bahwa konsep penjadwalan berantai seperti yang diterapkan pada Arabian Travel Market (ATM) di Dubai dan World Travel Market (WTM) Africa di Cape Town bisa direplikasi di ASEAN. Dalam pengalamannya, sekitar 20–25 persen peserta pameran mengikuti kedua acara tersebut karena jadwal yang berdekatan dan didukung konektivitas penerbangan yang baik. “Bayangkan jika acara-acara internasional di kawasan dijadwalkan secara berurutan seperti itu,” ujarnya.
Menurut Mohamed, keunggulan geografis ASEAN menjadi modal utama. Jarak antarkota dan antarnegara di kawasan relatif dekat; misalnya, penerbangan Singapura–Jakarta hanya memakan waktu sekitar satu setengah jam. Kondisi ini memungkinkan peserta internasional menghadiri beberapa acara dalam satu perjalanan, menghemat biaya dan waktu. “Kata kuncinya adalah kerja sama dan kolaborasi antarnegara, terutama antara negara-negara yang berdekatan,” tegasnya.
Seabef 2026 mengusung tema Beyond Business Events: Redefining the Future of Events as a Catalyst for Competitive, Sustainable, and High-Value Tourism Growth. Acara ini digelar bersamaan dengan Indonesia Business Event Mart (IBEM) 2026, yang keduanya bertujuan mereposisi peran event sebagai penggerak utama nilai ekonomi, keberlanjutan, dan inovasi di kawasan. Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menekankan bahwa pembahasan dalam forum ini telah berkembang dari sekadar memperkuat industri temu bisnis menjadi pemahaman akan kekuatan pertemuan sebagai penggerak daya saing pariwisata dan pembangunan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, peluang ini sangat strategis. Dengan menjadi tuan rumah Seabef dan IBEM, Jakarta berpotensi menarik lebih banyak penyelenggara acara internasional. Namun, kesuksesan jangka panjang bergantung pada kemauan politik negara-negara ASEAN untuk menyelaraskan kalender acara dan meningkatkan konektivitas. Pertanyaannya, mampukah ASEAN meninggalkan ego sektoral dan bergerak bersama menjadikan kawasan ini sebagai pusat ajang global yang sesungguhnya?



