Tim Robbins Buka Suara: Ayahuasca dan Perlawanan terhadap Cancel Culture
Baca dalam 60 detik
- Aktor Tim Robbins mengaku menjalani ritual ayahuasca untuk melepaskan amarahnya terhadap fenomena cancel culture.
- Dalam wawancara dengan Joe Rogan, ia mengungkap pengalaman spiritual bertemu mendiang ibunya yang memberinya pesan untuk beristirahat namun tetap melanjutkan perjuangan.
- Robbins juga membandingkan cancel culture dengan praktik era Soviet, berdasarkan diskusinya dengan penonton di Romania.

Setelah bertahun-tahun bergulat dengan kemarahan terhadap budaya pembatalan atau cancel culture, aktor senior Tim Robbins memilih jalan spiritual yang tidak lazim: mengikuti upacara ayahuasca. Dalam sebuah wawancara dengan podcaster Joe Rogan, bintang film Mystic River itu mengaku merasa "jauh lebih ringan" setelah ritual tersebut, sekaligus membagikan pengalaman emosionalnya bertemu dengan arwah ibunda tercinta.
Robbins, yang kini berusia 67 tahun, menjelaskan bahwa ia sengaja datang ke upacara itu dengan sebuah niat. "Saya frustrasi dengan kemarahan atas apa yang terjadi di dunia, dan saya berkata, 'Saya ingin melepaskan itu. Saya tidak ingin dikendalikan oleh amarah itu'," ujarnya. Selama perjalanan spiritualnya, ia merasakan kehadiran ibunya yang telah tiada. "Dia berkata, 'Kamu terluka. Kamu seorang pejuang, dan kamu terluka, kamu perlu istirahat, tapi perjuangan belum selesai'," kenang Robbins.
Pernyataan Robbins ini muncul di tengah perdebatan global yang kian memanas mengenai batas kebebasan berekspresi dan konsekuensi sosial bagi mereka yang dianggap melanggar norma. Robbins sendiri mengaku lelah dengan "pembubaran masyarakat" yang ia lihat, di mana orang-orang saling marah karena hal-hal sepele, persahabatan panjang hancur, dan individu dihukum karena mengungkapkan pendapat. "Saya ingin keluar. Saya ingin dibebaskan dari itu. Saya tidak ingin terlibat di dalamnya," tegasnya.
Menariknya, Robbins tidak berhenti pada pengalaman personal. Dalam kesempatan yang sama, ia mengaitkan cancel culture dengan praktik di era Uni Soviet. Saat sedang melakukan tur teater untuk lakon Topsy Turvy di Romania, ia bertanya kepada para penonton tentang aspek kehidupan modern yang mengingatkan mereka pada era komunis. Jawabannya serempak: "Cancel culture." Salah seorang penonton bahkan memaparkan analogi yang tajam: Uni Soviet menyimpan berkas tentang setiap warga; selama seseorang menjadi anggota partai yang baik, tidak ada masalah. Namun, begitu melenceng, berkas lama akan dikeluarkan—urusan pribadi dari 30 tahun lalu bisa menghancurkan keluarga, karier, dan menjadi tontonan publik untuk menakuti yang lain.
Bagi Robbins, perspektif dari Eropa Timur ini sangat berharga. "Mereka merasa cancel culture pada dasarnya beroperasi dengan cara yang sama seperti Uni Soviet," katanya. "Sangat menarik melihat perspektif itu dari Eropa Timur—orang-orang yang pernah hidup di bawah situasi opresif seperti itu dan cara mereka memandang dunia modern."
Fenomena cancel culture sendiri bukan hal baru, tetapi diskusi tentangnya kembali mengemuka seiring meningkatnya polarisasi di media sosial. Di Indonesia, istilah ini kerap dikaitkan dengan aksi saling serang di platform digital, meski konteksnya berbeda. Budaya gotong royong dan musyawarah yang menjadi akar bangsa sering kali berbenturan dengan kecenderungan global untuk menghakimi secara terbuka. Pertanyaan yang muncul: apakah Indonesia juga sedang menuju arah yang sama, atau justru memiliki mekanisme sosial yang lebih lunak dalam menyelesaikan konflik?
Pengalaman Robbins menunjukkan bahwa bahkan figur publik yang mapan pun bisa merasa terjebak dalam pusaran amarah kolektif. Langkahnya untuk mencari pelepasan melalui praktik tradisional Amazon—yang di beberapa negara masih kontroversial—menyoroti pencarian makna di tengah hiruk-pikuk zaman. Namun, apakah solusi personal seperti ini cukup untuk menjawab persoalan struktural yang lebih besar? Atau justru kita semua perlu merenungkan kembali cara kita berinteraksi dan menilai sesama, sebelum perpecahan semakin dalam?



