Joe Wicks Mengaku Percaya Dirinya di Titik Terendah: Media Sosial Biang Keroknya?
Baca dalam 60 detik
- Pelatih kebugaran Joe Wicks mengaku mengalami krisis kepercayaan diri terparah di usia 40 tahun, dipicu oleh paparan konten tubuh ideal pria di media sosial.
- Ia menyoroti algoritma yang menampilkan pria berotot dengan bantuan testosteron dan peptida, yang membuatnya mempertanyakan hasil latihan kerasnya sendiri.
- Di balik kritiknya, Wicks mengakui media sosial adalah fondasi kariernya, dari bootcamp kecil hingga buku terlaris 'Lean in 15' yang terjual 1,4 juta kopi.

Joe Wicks, pelatih kebugaran asal Inggris yang terkenal dengan program latihan singkatnya, mengaku sedang berada di titik terendah dalam hal kepercayaan diri terhadap tubuhnya. Pria berusia 40 tahun itu secara blak-blakan menyalahkan media sosial sebagai pemicu utama krisis ini, karena setiap hari ia dihadapkan pada unggahan pria-pria bertubuh ideal yang membuatnya merasa tidak cukup baik.
Dalam sesi tanya jawab yang dilaporkan oleh Daily Mail, Wicks mengungkapkan bahwa ia merasa percaya dirinya belum pernah serendah ini. "Saya jujur, saat ini di usia 40 tahun, saya memiliki kepercayaan diri terendah terhadap tubuh saya karena setiap hari saya melihat video dan reel pria dengan tubuh luar biasa, yang menggunakan testosteron dan peptida," ujarnya. Ia bahkan mengaku mulai bertanya-tanya mengapa tubuhnya tidak berubah meski telah berlatih keras, termasuk mampu melakukan squat berat dan pull-up dengan beban di pinggang.
Wicks menilai media sosial telah mengubah cara pandangnya tentang apa yang dianggap normal, sehat, dan bugar. Menurutnya, algoritma platform seperti Instagram dan TikTok menampilkan standar kecantikan yang tidak realistis dan sering kali tidak alami. "Fokuslah pada hal-hal dasar: tidur, olahraga, dan nutrisi. Jangan terjebak pada visi kesehatan yang tidak natural," pesannya, sembari mengakui bahwa ia sendiri sempat terpengaruh oleh algoritma tersebut.
Namun, hubungan Wicks dengan media sosial tidak melulu negatif. Ia memiliki perasaan cinta-benci terhadap platform yang sama yang kini membuatnya insecure. Sebelum terkenal, Wicks menjalankan bootcamp kebugaran kecil-kecilan. Media sosial kemudian mengangkat namanya, membuka jalan bagi karier penulis, dan mengubah hidupnya secara drastis. Dalam wawancara dengan The Guardian, ia menceritakan bahwa pada 2014, dengan 50.000 pengikut Instagram, seorang penerbit menghubunginya dan menawarinya menulis buku. Hasilnya, 'Lean in 15' sukses besar dengan penjualan 1,4 juta kopi.
Fenomena yang dialami Wicks bukanlah kasus terisolasi. Di Indonesia, budaya fitness dan gaya hidup sehat yang berkembang pesat juga diiringi oleh tekanan untuk tampil sempurna di media sosial. Banyak pria muda yang merasa tidak percaya diri karena membandingkan diri dengan konten kreator kebugaran yang kerap menggunakan filter, pencahayaan, atau bahkan substansi peningkat performa. Hal ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya gangguan citra tubuh dan penggunaan steroid ilegal di kalangan penggemar fitness.
Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, yang enggan disebutkan namanya, menilai bahwa paparan konten tubuh ideal secara terus-menerus dapat memicu body dissatisfaction dan bahkan gangguan makan. "Media sosial menciptakan realitas semu yang sulit ditandingi. Penting bagi pengguna untuk menyaring konten dan fokus pada kesehatan fungsional, bukan sekadar estetika," ujarnya. Ia juga menyarankan agar platform media sosial lebih bertanggung jawab dalam menandai konten yang menggunakan filter atau substansi tertentu.
Kisah Wicks menjadi pengingat bahwa bahkan seorang profesional kebugaran pun tidak kebal terhadap pengaruh negatif media sosial. Pertanyaannya, mampukah kita membangun hubungan yang lebih sehat dengan platform yang sama yang memberi kita inspirasi dan karier? Atau justru kita perlu lebih kritis terhadap apa yang kita lihat dan konsumsi setiap hari?



