Teror Van di Berlin: Satu Tewas, 31 Luka, Tersangka Tewas Ditembak Polisi
Baca dalam 60 detik
- Serangan dengan van di taman Tiergarten Berlin pada 25 Juli menewaskan satu orang dan melukai 31 lainnya, menurut data terbaru dari Walikota Berlin.
- Otoritas Jerman mengklasifikasikan insiden ini sebagai aksi teroris yang terkait dengan ISIS, dan tersangka utama—seorang warga Jerman keturunan Lebanon—tewas dalam baku tembak dengan polisi.
- Peristiwa ini kembali menyoroti kerentanan ruang publik terhadap serangan kendaraan, memicu perdebatan tentang keamanan di Eropa dan meningkatkan kewaspadaan di negara-negara seperti Indonesia.

Seorang pengemudi van dengan sengaja menabrak kerumunan di kawasan wisata Tiergarten, Berlin, pada Sabtu malam (25 Juli), menewaskan satu orang dan melukai sedikitnya 31 lainnya—angka yang direvisi naik dari laporan awal 29 korban luka. Pelaku tewas dalam operasi kepolisian keesokan harinya, dan penyelidikan federal kini mengarah pada jaringan teroris internasional.
Serangan terjadi sekitar pukul 19.30 waktu setempat, saat taman sedang ramai dikunjungi warga yang menikmati akhir pekan. Sebuah van putih melaju kencang dan menabrak sekelompok pejalan kaki serta pohon di dekat area acara publik. Pengemudi langsung melarikan diri, meninggalkan kendaraan yang ringsek. Dalam waktu kurang dari 24 jam, aparat berhasil melacak dan mengepung pelaku di distrik Spandau, Berlin barat.
Walikota Berlin Kai Wegner dalam konferensi pers, Selasa (28 Juli), mengkonfirmasi jumlah korban terkini dan menyebut insiden itu sebagai “serangan teroris keji.” Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt melaporkan 29 luka-luka. Penyelidikan langsung diambil alih Kejaksaan Federal Jerman, yang menegaskan keterkaitan dengan kelompok Islamic State (ISIS).
Tersangka utama, Abdul Ballut, adalah pria kelahiran Jerman berusia 21 tahun dengan latar belakang keluarga Lebanon. Ia tewas pada Minggu (26 Juli) saat polisi melakukan penggerebekan di apartemennya di Spandau. Dalam operasi tersebut, Ballut disebut melawan dan mencoba melarikan diri, sehingga aparat melepaskan tembakan. Dari ponselnya, penyidik menemukan video berisi ikrar kesetiaan kepada ISIS, memperkuat dugaan motif ideologis.
Serangan van di Berlin ini mengingatkan kembali pada rentetan aksi serupa di Eropa—seperti di Nice, Paris, dan Berlin sendiri pada 2016. Bagi Indonesia, insiden ini menjadi alarm terhadap potensi ancaman serangan kendaraan di tempat umum, terutama mengingat jaringan teroris yang masih aktif di Asia Tenggara. Meski belum ada indikasi hubungan langsung, aparat keamanan Indonesia meningkatkan pemantauan di titik-titik keramaian seperti mal, stasiun, dan kawasan wisata.
Ke depannya, Jerman diperkirakan akan memperketat pengamanan di ruang publik dan mempercepat proses deportasi terhadap warga asing yang terindikasi radikal. Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana efektivitas pendekatan keamanan semacam ini dalam mencegah aksi lone wolf yang terinspirasi propaganda daring?



