FAA Minta Ribuan Boeing 737 MAX Diperiksa, Kursi Penumpang Diduga Salah Pasang
Baca dalam 60 detik
- Badan Penerbangan AS (FAA) menerbitkan draf arahan kelaikan udara untuk 453 unit Boeing 737 MAX menyusul temuan pemasangan kursi yang tidak sesuai standar.
- Kursi yang tidak terpasang sempurna pada rel pengaman dapat mengancam keselamatan saat evakuasi darurat atau saat pesawat mengalami goncangan hebat.
- Boeing telah mengirimkan pedoman teknis ke maskapai sejak Desember 2025 dan menyambut baik rencana FAA mewajibkan perbaikan.

Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mengeluarkan draf arahan kelaikan udara bagi ratusan Boeing 737 MAX yang terdaftar di negeri Paman Sam. Langkah ini dipicu oleh laporan bahwa kursi penumpang pada pesawat jenis itu tidak terpasang dengan benar pada rel pengaman, yang berpotensi mengancam keselamatan dalam kondisi darurat.
Dalam dokumen yang dirilis Senin (27/7) waktu setempat, FAA menyebutkan bahwa sebanyak 453 pesawat 737 MAX milik maskapai AS terindikasi memiliki masalah pada pemasangan kursi. Jika tidak diperbaiki, kursi dapat terlepas dari rel saat pesawat mengalami turbulensi berat atau ketika melakukan pendaratan darurat. "Kondisi ini bisa mengakibatkan cedera pada penumpang dan kru, atau bahkan menghalangi lorong dan memperlambat proses evakuasi," demikian bunyi peringatan FAA.
Setiap pesawat 737 MAX dapat memiliki hingga 69 rakitan kursi yang terpasang pada rel. FAA memperkirakan perbaikan setiap rakitan hanya memakan waktu sekitar satu jam kerja tanpa perlu mengganti komponen. Namun, lembaga tersebut belum menetapkan batas waktu bagi maskapai untuk melakukan koreksi. Boeing, melalui juru bicaranya, menyatakan telah mengeluarkan panduan teknis kepada operator pada Desember 2025 dan mendukung arahan FAA untuk menjadikannya bersifat wajib.
Masalah kualitas produksi Boeing kembali menjadi sorotan setelah insiden terlepasnya panel pintu darurat pada pesawat Alaska Airlines 737 MAX pada awal 2024. Kini, temuan baru soal kursi memperpanjang daftar pekerjaan rumah bagi Boeing di bawah kepemimpinan CEO Kelly Ortberg yang tengah berupaya memperbaiki kualitas dan meningkatkan output produksi.
Bagi Indonesia, arahan FAA ini menjadi perhatian sebab beberapa maskapai nasional seperti Lion Air dan Batik Air mengoperasikan armada Boeing 737 MAX. Meski FAA hanya memiliki yurisdiksi atas maskapai AS, regulator penerbangan di negara lain, termasuk Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Indonesia, kerap mengadopsi arahan FAA sebagai standar keselamatan. Jika Indonesia mengikuti langkah serupa, maka puluhan pesawat 737 MAX yang beroperasi di dalam negeri juga perlu menjalani pemeriksaan dan perbaikan serupa.
Langkah FAA ini juga menjadi ujian bagi komitmen Boeing dalam memulihkan kepercayaan publik pascakrisis 737 MAX. Meski perbaikan kursi tergolong sederhana, temuan ini kembali mengingatkan bahwa celah kecil dalam proses produksi dapat berujung pada risiko besar. Pertanyaan yang muncul kemudian: akankah regulator di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, segera mengadopsi arahan ini untuk memastikan standar keselamatan yang seragam? Atau akankah maskapai menunggu hingga ada insiden sebelum bertindak?



