Wisatawan Korea Digigit Monyet di Taj Mahal, Ambulans Baru Tiba Setelah Satu Jam
Baca dalam 60 detik
- Seorang turis asal Korea Selatan harus menunggu hampir satu jam untuk mendapatkan ambulans setelah digigit monyet di Taj Mahal, memicu kritik tajam di media sosial.
- Insiden ini menyoroti lemahnya respons darurat di situs warisan dunia, meskipun otoritas setempat telah memberi tahu petugas kesehatan.
- Kedutaan Besar Korea Selatan baru mengetahui kejadian tersebut dari media, menunjukkan kurangnya koordinasi dalam penanganan kecelakaan wisatawan asing.

Seorang wisatawan asal Korea Selatan harus menunggu hampir satu jam untuk mendapatkan pertolongan medis setelah digigit monyet di kompleks Taj Mahal, Agra, India, Minggu (26/7). Peristiwa ini memicu gelombang kritik di media sosial, terutama dari warganet Korea Selatan, yang menyoroti buruknya penanganan darurat bagi wisatawan asing di salah satu destinasi wisata paling ikonik di dunia.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan perempuan tersebut memegangi lengannya saat digiring ke pusat kesehatan di lokasi. Meskipun mendapat pertolongan pertama, ambulans yang dijanjikan tidak kunjung tiba. Menurut laporan media India, pihak Archaeological Survey of India (ASI) telah menghubungi otoritas kesehatan setempat, namun kendaraan darurat baru tiba setelah hampir satu jam. Akhirnya, korban dilarikan ke rumah sakit terdekat menggunakan becak otomatis, kendaraan roda tiga yang lazim di India.
Keterlambatan ini memicu kemarahan warganet. "Kamu harus siap mati sebelum pergi ke India," tulis seorang pengguna. Yang lain menambahkan, "Menunggu satu jam dalam situasi seperti ini bisa berakibat fatal." Komentar-komentar tersebut mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas tentang keselamatan wisatawan di India, terutama di tengah meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan asing pasca-pandemi.
Insiden ini juga mengungkap kelemahan koordinasi antarlembaga. Pejabat Kedutaan Besar Korea Selatan di India mengakui bahwa mereka tidak mendapat notifikasi pada hari kejadian. Pihak kedutaan baru mengetahui kasus ini melalui pemberitaan media lokal dan kemudian mengonfirmasi detailnya kepada rekan korban. Hal ini menunjukkan adanya celah dalam komunikasi antara otoritas India dan perwakilan diplomatik negara asal wisatawan, yang seharusnya menjadi prioritas dalam penanganan darurat.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan darurat di destinasi wisata. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, terutama ke Candi Borobudur dan kawasan wisata lainnya, pemerintah dan pengelola situs perlu memastikan prosedur evakuasi medis berjalan cepat dan terkoordinasi. Kurangnya respons cepat tidak hanya membahayakan nyawa, tetapi juga merusak citra pariwisata nasional di mata dunia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah India akan memperbaiki sistem tanggap daruratnya di situs-situs bersejarah? Tekanan publik, terutama dari wisatawan asing, mungkin menjadi dorongan bagi pemerintah India untuk meningkatkan infrastruktur kesehatan di tempat-tempat wisata. Namun, tanpa adanya perubahan nyata, insiden serupa berisiko terulang dan semakin mengikis kepercayaan wisatawan internasional.



