Gempa Kumamoto Tewaskan 35 Orang: Jaringan Shinkansen Mulai Pulih, Ribuan Warga Masih Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Korban jiwa gempa berkekuatan 7,1 SR di Kumamoto bertambah menjadi 35 orang, dengan satu kematian masih diselidiki kaitannya dengan bencana.
- Layanan kereta peluru Kyushu Shinkansen segmen Hakata–Kumamoto kembali beroperasi, meski ruas ke Kagoshima masih ditutup.
- Sekitar 3.600 rumah tangga masih tanpa listrik dan 79.100 lainnya kekurangan air bersih, sementara upaya pemulihan ditargetkan rampung akhir pekan ini.

Gempa bumi dahsyat yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, Selasa lalu, kini memakan korban jiwa 35 orang. Angka ini bertambah setelah satu kematian baru dikonfirmasi otoritas setempat pada Jumat (31/7/2026), meski satu di antaranya masih dalam penyelidikan terkait keterkaitannya dengan bencana. Di tengah duka, sebagian infrastruktur vital mulai menunjukkan tanda pemulihan, termasuk jalur kereta peluru Kyushu Shinkansen yang menghubungkan stasiun Hakata dan Kumamoto.
Jendela kritis 72 jam—periode yang diyakini sebagai waktu emas untuk menemukan korban selamat—telah berlalu Jumat sore. Meski demikian, tim penyelamat tidak mengendurkan upaya. Mereka terus memeriksa puing-puing untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal. Sebelumnya, seluruh orang yang dilaporkan hilang oleh pemerintah prefektur telah ditemukan, tetapi pencarian tetap dilanjutkan sebagai langkah antisipasi.
Rincian korban jiwa menunjukkan konsentrasi di beberapa wilayah. Di Yatsushiro, 20 orang berusia 30-an hingga 90-an tewas, termasuk sembilan dari 11 orang yang terjebak di pabrik Nippon Paper Industries setelah cerobong asapnya roboh. Di Kashima, tujuh orang meninggal di kompleks perbelanjaan Aeon Mall yang mengalami ledakan pascagempa. Empat korban di Hikawa, dua pria di Uki, dan satu warga negara Vietnam berusia 20-an di Kosa turut memperpanjang daftar duka. Satu kematian lainnya masih belum jelas apakah disebabkan langsung oleh gempa.
Di sektor transportasi, Kyushu Railway Company (JR Kyushu) telah memulihkan layanan kereta peluru antara Stasiun Hakata di Fukuoka dan Stasiun Kumamoto pada Jumat. Layanan ini sempat terhenti total sejak gempa berkekuatan magnitudo 7,1 itu. Sejak Rabu malam, operasional sudah berjalan parsial di Prefektur Fukuoka. Kini, penumpang kembali terlihat menunggu kereta di Stasiun Kumamoto. Namun, ruas antara Kumamoto dan Kagoshima-chuo masih ditutup hingga Jumat pukul 15.30 waktu setempat.
Dampak sosial masih terasa luas. Data pemerintah prefektur mencatat 390 lokasi pengungsian menampung 9.105 orang. Lebih dari 79.000 rumah tangga di sepuluh kota dan kabupaten, termasuk Yatsushiro dan Uki, belum mendapatkan pasokan air bersih. Sementara itu, Kyushu Electric Power menargetkan pemulihan listrik bagi sekitar 3.600 rumah tangga yang masih padam pada Jumat malam.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi. Jepang dan Indonesia sama-sama berada di Cincin Api Pasifik, sehingga risiko seismik tinggi. Sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan gempa yang dimiliki Jepang menjadi pelajaran berharga. Respons cepat terhadap transportasi publik, seperti pemulihan Shinkansen, juga menunjukkan pentingnya ketahanan infrastruktur dalam masa krisis.
Ke depan, tantangan utama adalah memulihkan kehidupan normal warga Kumamoto. Selain memperbaiki jaringan listrik dan air, pemerintah perlu memastikan layanan kesehatan dan psikososial bagi para pengungsi. Pertanyaannya, akankah pemulihan infrastruktur berjalan secepat harapan, atau akankah trauma berkepanjangan menghambat proses rehabilitasi? Semua mata kini tertuju pada upaya rekonstruksi yang akan menentukan wajah Kumamoto pascabencana.



