Kei Nishikori Akui Cedera dan Menurunnya Motivasi Jadi Alasan Pensiun
Baca dalam 60 detik
- Petenis Jepang Kei Nishikori mengungkapkan bahwa cedera bertubi-tubi dan hilangnya gairah berlatih menjadi penyebab utama keputusannya pensiun akhir musim ini.
- Nishikori, yang pernah menjadi petenis Asia pertama yang mencapai final Grand Slam, mengaku sudah kehilangan semangat sejak Agustus tahun lalu dan berat hati menjalani latihan.
- Kepergian Nishikori meninggalkan celah besar di tenis Asia, mengingat prestasinya sebagai peraih medali Olimpiade dan mantan peringkat 4 dunia.

Kei Nishikori, mantan petenis nomor 4 dunia asal Jepang, secara terbuka mengakui bahwa motivasi yang terus menurun akibat cedera berulang menjadi alasan di balik keputusannya untuk pensiun pada akhir musim ini. Pengakuan itu disampaikan dalam konferensi pers pertamanya sejak pengumuman pensiun pada akhir April lalu, di Washington, Minggu (27/7).
Petenis berusia 36 tahun itu menceritakan bahwa ide untuk pensiun pertama kali muncul setelah turnamen pada Agustus tahun lalu. "Saya merasakan nyeri di tiga atau empat bagian tubuh, dan saya tidak lagi memiliki tekad untuk memulihkan kondisi fisik demi bertarung lagi di lapangan," ujarnya. Nishikori menjalani operasi pinggul kiri pada Januari 2022 dan sejak kembali bertanding pada Juni 2023, ia terus diganggu cedera lain. Ia mengaku langkahnya terasa berat saat berlatih—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bagi pecinta tenis Indonesia, Nishikori bukan sekadar nama asing. Ia adalah inspirasi bagi petenis Asia, termasuk Indonesia, untuk percaya bahwa mereka bisa bersaing di pentas tertinggi. Prestasinya mencapai final AS Terbuka 2014—pertama bagi petenis Jepang dan Asia—menjadi bukti bahwa batasan benua bisa ditembus. Dengan pensiunnya Nishikori, tenis Asia kehilangan salah satu ikon yang membuka jalan bagi generasi berikutnya.
Dalam perjalanan kariernya yang gemilang, Nishikori juga mencatat kemenangan atas legenda seperti Rafael Nadal di perebutan medali perunggu Olimpiade Rio 2016. Ia mengakhiri puasa medali Jepang selama 96 tahun di cabang tenis. Namun, cedera yang terus menghantuinya sejak 2022 membuatnya sulit mempertahankan performa. Ia mengakui tahun terakhir menjadi masa tersulit karena harus berjuang melawan rasa sakit dan kehilangan kecintaan pada olahraga yang membesarkan namanya.
Nishikori dijadwalkan turun di Mubadala DC Open pada Senin (27/7), turnamen pertamanya sejak pengumuman pensiun. Istirahat selama sebulan di sekitar April membantunya memulihkan kondisi. "Saya bisa berlatih tanpa menahan diri dan mulai merasakan permainan yang lebih baik. Senang bisa kembali menyukai tenis menjelang akhir karier saya," tuturnya. Meski demikian, ia belum membeberkan rencana setelah pensiun.
Dengan mundurnya Nishikori, dunia tenis Asia kembali bertanya: siapa yang akan meneruskan estafet? Jepang masih memiliki pemain muda seperti Yoshihito Nishioka, tapi belum ada yang mencapai level Grand Slam seperti Nishikori. Warisannya sebagai pelopor tenis Asia akan terus dikenang, sementara penggemar di Indonesia dan Asia Tenggara berharap muncul bintang baru yang mampu mengikuti jejaknya.



