Gempa 7,1 Guncang Kumamoto: Pabrik Kertas Runtuh, Mal Meledak, Ratusan Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 7,1 SR di Kumamoto menyebabkan 11 orang tertimbun di pabrik Nippon Paper, 2 dinyatakan tidak sadarkan diri, 7 masih hilang.
- Ledakan pasca-gempa di Aeon Mall menewaskan dua wanita berusia 20-an, tiga dalam kondisi kritis, dan lima luka-luka.
- Lebih dari 4.700 warga mengungsi di 466 titik; rumah sakit terdampak pemadaman listrik dan air, pasien dipindahkan.

Gempa bumi berkekuatan 7,1 skala Richter yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, pada Jumat (28/7) sore waktu setempat memicu runtuhnya sebagian pabrik kertas dan ledakan di pusat perbelanjaan, menewaskan sedikitnya empat orang serta menyebabkan belasan warga masih dalam pencarian.
Di pabrik Nippon Paper Industries di Yatsushiro, 11 pekerja tertimbun reruntuhan. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi empat orang, namun dua di antaranya dalam kondisi henti jantung dan dua lainnya luka berat. Tujuh pekerja lainnya belum ditemukan hingga Sabtu pagi. Pabrik tersebut merupakan salah satu pabrik kertas terbesar di wilayah Kyushu, dan insiden ini langsung menghentikan seluruh operasi.
Bencana juga melanda Aeon Mall Kumamoto di Kashima. Gempa menyebabkan ledakan di area pusat perbelanjaan itu, menewaskan dua wanita berusia 20-an. Tiga orang lainnya dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis, sementara lima pengunjung dilaporkan mengalami luka-luka. Pemerintah prefektur menyebut delapan orang berhasil diselamatkan dari reruntuhan mal, namun nyawa dua korban tidak tertolong.
Di luar lokasi industri dan komersial, dampak gempa terasa luas. Pemerintah prefektur melaporkan sebanyak 466 pusat evakuasi telah didirikan di 36 kotamadya, menampung 4.744 jiwa dari 2.180 rumah tangga. Sejumlah tempat pengungsian mengalami pemadaman listrik, mendorong otoritas mempertimbangkan perluasan evakuasi ke wilayah seperti Kota Uki. Rumah sakit di Yatsushiro, Uki, dan sekitarnya juga terputus pasokan listrik dan air bersih, sehingga pasien dari Rumah Sakit Kumamotominami dan Kibohgaoka segera dipindahkan ke fasilitas lain.
Pengalaman gempa di Jepang ini menjadi pengingat bagi Indonesia, negara yang juga berada di lingkar api Pasifik dan rawan gempa. Kejadian di pabrik dan mal menunjukkan pentingnya standar bangunan tahan gempa dan prosedur evakuasi yang ketat di fasilitas publik. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia dapat menjadikan respons Jepang—yang cepat memobilisasi pusat evakuasi dan transfer pasien rumah sakit—sebagai referensi untuk meningkatkan kesiapsiagaan di pusat perbelanjaan dan kawasan industri dalam negeri.
Dengan jumlah korban yang masih mungkin bertambah, otoritas Jepang terus melakukan pencarian dan penyelamatan. Pertanyaan besar kini mengarah pada efektivitas sistem peringatan dini serta sejauh mana bangunan komersial di zona rawan gempa telah memenuhi standar keamanan. Indonesia pun patut mempertanyakan hal serupa.



