Asap Kebakaran Hutan 10 Kali Lebih Beracun dari Polusi Biasa, Ancaman Kesehatan Jangka Panjang
Baca dalam 60 detik
- Asap kebakaran hutan mengandung partikel yang jauh lebih toksik dibandingkan polusi udara dari pembakaran bahan bakar fosil, terutama bagi anak-anak.
- Partikel halus asap mampu menembus paru-paru dan masuk ke aliran darah, memicu peradangan dan memperburuk penyakit pernapasan serta kardiovaskular.
- Di Indonesia, bencana kabut asap dari kebakaran lahan kerap terulang, namun kesadaran akan dampak kesehatan jangka panjang masih rendah.

Asap kebakaran hutan ternyata memiliki tingkat toksisitas sepuluh kali lipat lebih tinggi dibandingkan polusi udara biasa yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil. Ancaman ini tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi kebakaran, tetapi juga dapat melayang hingga ratusan kilometer, membahayakan masyarakat di wilayah yang jauh dari titik api.
Lisa Patel, direktur eksekutif Medical Society Consortium on Climate and Health di George Mason University, menjelaskan bahwa asap kebakaran menjadi lebih berbahaya karena mengandung campuran zat kimia dari material yang terbakar, seperti rumah, kendaraan, baterai, dan berbagai produk sintetis. โPartikel kecil ini dapat masuk ke saluran pernapasan terdalam dan bahkan menembus aliran darah, menyebabkan peradangan,โ ujarnya dalam wawancara dengan CNA.
Paparan asap kebakaran dalam jangka pendek dapat memicu serangan asma, pneumonia, dan bronkitis, sedangkan paparan jangka panjang meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hingga gangguan paru-paru kronis. Seorang wali kota di Spanyol menyebut kobaran api yang melanda wilayahnya sebagai โmonster yang menghancurkan segalanya.โ
Fenomena ini memiliki relevansi kuat dengan Indonesia. Hampir setiap tahun, kebakaran hutan dan lahan di Sumatera serta Kalimantan menghasilkan kabut asap yang menyelimuti sebagian besar wilayah Asia Tenggara. Namun, perhatian publik seringkali hanya terfokus pada kerugian ekonomi dan lingkungan, sementara dampak kesehatan jangka panjang kerap terabaikan.
Pakar kesehatan masyarakat Indonesia, Dr. Andriyanto, menekankan pentingnya pemantauan kualitas udara dan penggunaan masker saat kebakaran terjadi. โPemerintah perlu menyediakan data real-time dan edukasi kepada masyarakat, terutama di daerah yang rawan kabut asap,โ katanya. Ia juga mendorong riset lebih lanjut mengenai efek kumulatif polusi dari kebakaran terhadap generasi muda.
Perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi dan intensitas kebakaran hutan membuat situasi ini semakin mengkhawatirkan. Tanpa langkah mitigasi yang serius, siklus bencana asap diperkirakan akan terus berulang, membawa serta risiko kesehatan yang tidak terlihat tapi mematikan.



