Jaringan Sabu Malaysia-NTB Dibongkar, Kurir Upah 9.000 Ringgit
Baca dalam 60 detik
- BNNP NTB bersama Bea Cukai menggagalkan penyelundupan satu kilogram sabu dari Malaysia melalui Bandara Lombok.
- Kurir warga Malaysia menyembunyikan narkotika dengan cara ditempel di tubuh dan dimasukkan ke dalam rongga tubuh.
- Jaringan ini dikendalikan dari Lombok Timur dan barang bukti telah dimusnahkan untuk kelengkapan berkas persidangan.

Badan Narkotika Nasional Provinsi Nusa Tenggara Barat (BNNP NTB) berhasil mengungkap jaringan penyelundupan narkotika lintas batas yang melibatkan kurir asal Malaysia dan sejumlah pengendali lokal. Dalam pengungkapan ini, aparat menyita satu kilogram sabu-sabu yang diselundupkan melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) Lombok.
Kepala BNNP NTB Brigjen Pol. Marjuki mengungkapkan, penangkapan bermula dari operasi bersama dengan Bea Cukai Mataram pada 20 Juni 2026. Seorang warga negara Malaysia berinisial MA (33) ditetapkan sebagai tersangka setelah kedapatan membawa lima bungkus sabu. Modusnya, tiga bungkus ditempelkan di bagian tubuh dan dua bungkus lainnya disembunyikan di dalam rongga tubuh saat memasuki Indonesia melalui bandara tersebut.
Dari hasil pemeriksaan, penyidik mengidentifikasi sosok AD yang diduga memerintahkan MA untuk menyelundupkan sabu ke Pulau Lombok dengan imbalan 9.000 ringgit Malaysia. Pengembangan kasus juga mengarah pada penangkapan NE (45) di Kota Mataram melalui teknik controlled delivery, yakni pengiriman barang bukti yang diawasi hingga ke tangan penerima. Selanjutnya, penyidik mendeteksi seorang terduga pengendali berinisial P yang berada di Kabupaten Lombok Timur.
Brigjen Marjuki menegaskan bahwa pemusnahan barang bukti dilakukan pada Rabu (26/6) sebagai bagian dari kelengkapan berkas perkara sebelum dilimpahkan ke persidangan. "Hasil giat pemusnahan ini akan menjadi kelengkapan berkas di persidangan," ujarnya. Sementara itu, Kepala Bea Cukai Mataram Bambang Parwanto menyatakan pihaknya akan memperkuat pengawasan terhadap potensi penyelundupan narkotika melalui jalur penerbangan, termasuk dengan meningkatkan profiling penumpang dan kerja sama dengan BNNP serta Polda NTB.
Pengungkapan ini menjadi alarm bagi pengawasan di bandara-bandara Indonesia, terutama yang menjadi pintu masuk dari Malaysia. Modus penyembunyian di dalam tubuh menunjukkan upaya pelaku untuk lolos dari deteksi, namun dapat terungkap berkat koordinasi antarlebaga. Ke depan, aparat dihadapkan pada tantangan untuk terus mengembangkan intelijen dan deteksi dini guna memutus rantai peredaran narkoba yang melibatkan jaringan internasional.



