Polusi Jakarta Kembali Mengkhawatirkan: Indeks Capai 152, Warga Diminta Waspada
Baca dalam 60 detik
- Indeks kualitas udara Jakarta pagi ini tercatat 152, masuk kategori tidak sehat dan 11,4 kali di atas ambang WHO.
- Konsentrasi PM2,5 yang tinggi meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan kardiovaskular, terutama pada kelompok rentan.
- Pemprov DKI mengimbau warga mengurangi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker untuk meminimalkan dampak.

Kualitas udara Jakarta kembali memburuk pada Rabu pagi dengan indeks mencapai 152, jauh di atas ambang batas aman, mendorong pemerintah daerah mengeluarkan imbauan bagi warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan.
Berdasarkan data dari IQAir yang diperbarui pukul 06.00 WIB, konsentrasi partikel halus PM2,5 di ibu kota mencapai 57 mikrogram per meter kubikโ11,4 kali lebih tinggi dari pedoman tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Partikel berukuran sangat kecil ini dapat menembus paru-paru dan masuk ke aliran darah, memicu penyakit kronis seperti jantung dan gangguan pernapasan.
Kualitas udara Jakarta saat ini menempati urutan keenam terburuk di Indonesia, di bawah Pontianak (207), Serpong (183), Tangerang Selatan (174), Surabaya (169), dan Bandung (157). Meski tidak setinggi kota-kota lain, angka tersebut tetap mengkhawatirkan mengingat kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi di Jakarta. Polusi yang tinggi diperkirakan berasal dari emisi kendaraan, pembakaran industri, dan konstruksi yang masif.
| Kota | Indeks AQI | Kategori |
|---|---|---|
| Pontianak | 207 | Sangat Tidak Sehat |
| Serpong | 183 | Tidak Sehat |
| Tangerang Selatan | 174 | Tidak Sehat |
| Surabaya | 169 | Tidak Sehat |
| Bandung | 157 | Tidak Sehat |
| Jakarta | 152 | Tidak Sehat |
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan mengingatkan warga untuk selalu memeriksa kualitas udara sebelum beraktivitas, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru. Masyarakat disarankan untuk menutup jendela, menggunakan penyaring udara di dalam ruangan, dan memakai masker saat keluar rumah. Jika mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau nyeri dada, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Bagi warga Jakarta yang terbiasa berolahraga pagi atau bersepeda, kondisi ini menjadi pengingat bahwa aktivitas luar ruangan sebaiknya dikurangi hingga kualitas udara membaik. Langkah-langkah jangka pendek ini memang bersifat reaktif, namun ke depan diperlukan kebijakan struktural seperti penerapan kawasan rendah emisi dan pengawasan ketat terhadap emisi industri. Tanpa upaya yang lebih serius, Jakarta berisiko terus berada dalam lingkaran polusi yang mengancam kesehatan warganya dalam jangka panjang.



