Misi Dua Tahun Bersepeda 60.000 Km, Pemuda Kamboja Kumpulkan Rp3,9 Miliar untuk Rumah Sakit Anak
Baca dalam 60 detik
- Tiv Dararith menjadi warga Kamboja pertama yang bersepeda melintasi 40 negara dalam 2 tahun, mengumpulkan lebih dari $260.000 untuk dua rumah sakit anak.
- Ia menghadapi suhu ekstrem minus 40 derajat Celcius dan malaria, namun mengaku tantangan terbesar adalah menggalang dana serta menggunakan paspor Kamboja yang kerap menyulitkan perjalanan.
- Usai misi, Dararith akan menulis buku, memproduksi film dokumenter, dan merencanakan tur sepeda domestik untuk mempromosikan wisata alam Kamboja.

Seorang pengendara sepeda asal Kamboja, Tiv Dararith, berhasil mengumpulkan dana sebesar lebih dari 260.000 dolar AS (sekitar Rp3,9 miliar) untuk dua rumah sakit anak setelah menjalani misi bersepeda sejauh hampir 60.000 kilometer melintasi lebih dari 40 negara selama lebih dari dua tahun. Dalam konferensi pers di Phnom Penh pada 27 Juli, ia menegaskan bahwa pencapaiannya bukan sekadar urusan amal, melainkan bukti bahwa warga Kamboja mampu menorehkan prestasi di panggung global sekaligus menginspirasi generasi muda untuk bermimpi lebih besar.
Dararith, yang berusia sekitar 30-an, memulai kampanye bertajuk “Cycling for Cambodia’s Children” pada 2023. Seluruh donasi ia serahkan kepada Kantha Bopha Foundation dan Angkor Hospital for Children, dua lembaga yang memberikan layanan kesehatan gratis bagi anak-anak Kamboja. Menurut Menteri Informasi Kamboja Neth Pheaktra yang hadir dalam acara penutupan, misi ini merupakan tonggak sejarah karena menjadikan Dararith sebagai warga Kamboja pertama yang menjelajah puluhan negara dengan sepeda sendirian.
Perjalanan itu membawanya melewati medan paling keras di bumi, mulai dari Himalaya dengan ketinggian 6.000 meter di atas permukaan laut, musim dingin di Asia Tengah dengan suhu minus 40 derajat Celcius, hingga hutan Afrika Tengah di mana ia terserang malaria dan nyaris kehilangan nyawa. Namun, Dararith mengungkapkan bahwa rintangan fisik bukanlah tantangan terbesar. “Masalah sesungguhnya adalah bagaimana mengumpulkan cukup uang untuk menyelesaikan misi dan pulang dengan selamat,” ujarnya. Ia juga mengakui bahwa bepergian dengan paspor Kamboja menjadi kendala besar karena banyak negara memberlakukan persyaratan visa yang ketat. Kendati demikian, melalui perencanaan matang dan ketekunan, ia berhasil menuntaskan perjalanan.
Bagi pembaca di Indonesia, aksi Dararith bisa menjadi cermin bagi potensi besar kegiatan amal berbasis olahraga. Di Indonesia, sejumlah komunitas pesepeda juga kerap menggelar gowes amal untuk rumah sakit atau pendidikan, namun belum ada yang menempuh skala global seperti Dararith. Keberhasilannya membuktikan bahwa tantangan administratif seperti keterbatasan paspor tidak boleh menghalangi niat baik. Di sisi lain, dana yang terkumpul—setara dengan Rp3,9 miliar—cukup signifikan untuk membantu operasional rumah sakit anak di negara berkembang. Jika ada pesepeda Indonesia yang ingin meniru, ia perlu menyiapkan strategi penggalangan dana yang solid dan dukungan pemerintah seperti yang diperoleh Dararith dari Kementerian Informasi Kamboja.
Meski misi globalnya telah usai, Dararith tak berhenti. Ia sudah merencanakan proyek baru: menulis buku pengalaman, memproduksi film dokumenter berjudul “Two Years on a Bike”, menggelar pameran foto dan perlengkapan sepeda yang ia gunakan, serta mengajukan proposal ke Kementerian Pariwisata untuk tur bersepeda enam bulan keliling Kamboja. Tur domestik itu diharapkan mampu memperkenalkan destinasi wisata alam Kamboja ke dunia internasional sekaligus membuktikan bahwa petualangan dapat berpadu dengan misi kemanusiaan. Pertanyaan yang kini menggantung: bisakah semangat Dararith menular ke generasi muda Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk melakukan aksi serupa?



