Starship Kembali Terbang, SpaceX Uji Satelit V3 yang Bisa Dipanggil HP Biasa
Baca dalam 60 detik
- SpaceX berhasil meluncurkan Starship ke-13, mengirim 20 satelit Starlink V3 ke orbit rendah Bumi untuk pertama kalinya.
- Satelit V3 menawarkan kapasitas dan kecepatan internet lebih tinggi, menjadi fondasi layanan direct-to-cell pada 2026.
- Meski booster Super Heavy gagal mendarat mulus, uji coba ini mendekatkan Starship pada target operasi rutin tahun ini.

SpaceX mengirimkan 20 satelit Starlink generasi terbaru ke luar angkasa dalam uji terbang ke-13 Starship, Jumat lalu—sebuah langkah kunci menuju layanan internet satelit yang dapat dijangkau langsung oleh ponsel biasa tanpa perangkat tambahan.
Rokset raksasa setinggi 122 meter itu lepas landas dari fasilitas Starbase di Texas pada pukul 18.50 waktu setempat. Dalam misi sekitar satu jam, Starship berhasil meluncurkan satelit V3—versi yang jauh lebih bertenaga dengan bandwidth dan kecepatan internet lebih besar—dan menghubungkannya sebentar dengan jaringan Starlink yang sudah ada, sebelum akhirnya satelit-satelit itu terbakar saat memasuki atmosfer Bumi sesuai rencana.
Pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi ambisi CEO Elon Musk: memperluas jangkauan Starlink, mendaratkan manusia di Bulan untuk NASA pada 2028, dan pada akhirnya menempatkan ribuan satelit pemroses kecerdasan buatan di orbit. Namun, misi belum sepenuhnya sempurna. Super Heavy, pendorong tahap pertama Starship, gagal mendarat dengan mulus di Teluk Meksiko setelah lima mesinnya tidak menyala kembali untuk memperlambat jatuhnya.
"Kami menargetkan pendaratan yang lebih lembut, tapi seperti yang terlihat, ia masih memiliki kecepatan yang cukup besar," kata juru bicara SpaceX Dan Huot dalam siaran langsung. Kegagalan serupa terjadi pada uji Mei lalu, di mana empat mesin tidak menyala. Meski begitu, perbaikan terlihat pada perisai panas Starship yang hanya mengalami sedikit kerusakan saat masuk kembali ke atmosfer—langkah maju menuju visi Musk agar roket dapat terbang dan kembali seperti pesawat komersial.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Starlink sudah mulai beroperasi di dalam negeri melalui kerja sama dengan penyedia lokal, menawarkan internet berkecepatan tinggi ke daerah terpencil. Dengan kehadiran satelit V3 dan rencana direct-to-cell, akses internet di kawasan timur Indonesia—yang kerap terkendala infrastruktur—bisa meningkat drastis. Namun, regulasi frekuensi dan izin operasi masih menjadi catatan. Pemerintah perlu mengantisipasi potensi gangguan pada layanan seluler eksisting dan memastikan persaingan yang sehat dengan operator telekomunikasi nasional.
Ke depan, keberhasilan Starship membawa satelit V3 tidak hanya mempercepat transformasi konektivitas global, tetapi juga menguji kesiapan Indonesia dalam mengadopsi teknologi orbit rendah. Akankah regulasi mampu mengejar kecepatan inovasi SpaceX? Atau justru Indonesia akan menjadi pasar potensial yang terlambat dimanfaatkan?



