Amazon Siap Terbitkan Obligasi Sterling Perdana, Ikuti Jejak Alphabet di Tengah Perburuan Dana AI
Baca dalam 60 detik
- Raksasa e-commerce Amazon dikabarkan tengah menyiapkan penerbitan obligasi dalam mata uang pound sterling untuk pertama kalinya, menyusul langkah serupa yang dilakukan Alphabet.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi perusahaan teknologi besar (hyperscaler) untuk mendiversifikasi sumber pendanaan di tengah kebutuhan modal besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).
- Penerbitan obligasi ini berpotensi menguji kapasitas pasar obligasi global yang mulai jenuh, dan dapat menjadi sinyal bagi investor Indonesia untuk mencermati pergerakan pasar keuangan global.

Amazon dikabarkan telah menunjuk sejumlah bank untuk menggarap penerbitan obligasi pertama mereka dalam mata uang pound sterling. Langkah ini menjadi bagian dari gelombang pendanaan besar-besaran yang dilakukan perusahaan teknologi raksasa untuk membiayai ekspansi kecerdasan buatan (AI). Menurut memo yang beredar dan dilihat oleh Reuters, raksasa e-commerce itu berencana menerbitkan obligasi dengan tenor 3, 6, 12, dan 19 tahun, dan transaksinya bisa dimulai paling cepat Rabu (9/9) waktu setempat, tergantung kondisi pasar.
Keputusan Amazon untuk merambah pasar obligasi sterling tidak terlepas dari kebutuhan dana yang sangat besar untuk pengembangan AI. Perusahaan-perusahaan hyperscaler seperti Amazon, Microsoft, dan Google berlomba membangun infrastruktur data center yang masif, yang membutuhkan investasi triliunan dolar. Dalam beberapa bulan terakhir, mereka gencar menerbitkan obligasi di berbagai mata uang, mulai dari euro, franc Swiss, hingga yen, untuk mendiversifikasi sumber pendanaan dan memanfaatkan suku bunga yang lebih rendah di luar Amerika Serikat.
Langkah Amazon ini mengikuti jejak Alphabet, perusahaan induk Google, yang pada Februari lalu berhasil mengumpulkan dana sebesar 5,5 miliar pound sterling (sekitar Rp 110 triliun) melalui penerbitan obligasi dalam lima seri, termasuk obligasi berjangka 100 tahun yang langka. Kesuksesan Alphabet menunjukkan bahwa pasar obligasi sterling masih cukup dalam dan likuid untuk menampung emisi skala besar dari perusahaan teknologi.
Namun, gelombang penerbitan obligasi ini juga memunculkan kekhawatiran di kalangan investor. Beberapa pembeli obligasi besar telah memperingatkan bahwa pasar obligasi dollar AS mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan. Pasokan obligasi korporasi yang melimpah, terutama dari sektor teknologi, telah mendorong imbal hasil (yield) naik dan membuat investor lebih selektif. Penerbitan obligasi dalam mata uang lain, seperti sterling, menjadi alternatif untuk mengurangi tekanan di pasar dollar AS.
Bagi Indonesia, fenomena ini memiliki relevansi yang cukup kuat. Pertama, pasar obligasi global yang semakin terintegrasi berarti pergerakan suku bunga dan imbal hasil di negara maju akan berdampak pada arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Jika penerbitan obligasi oleh perusahaan teknologi global terus meningkat, hal ini dapat menyerap likuiditas global dan berpotensi menekan nilai tukar rupiah serta meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia.
Kedua, kebutuhan dana besar untuk AI juga membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi di bidang infrastruktur digital. Pemerintah Indonesia tengah gencar membangun ekosistem AI dan data center, dan kehadiran perusahaan-perusahaan teknologi global dapat menjadi katalis. Namun, persaingan untuk mendapatkan investasi ini semakin ketat, dan Indonesia perlu memastikan daya saingnya, baik dari segi regulasi, infrastruktur, maupun sumber daya manusia.
Para analis memperkirakan bahwa tren penerbitan obligasi lintas mata uang oleh perusahaan teknologi akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan, seiring dengan meningkatnya kebutuhan pendanaan untuk AI. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa ada risiko kelebihan pasokan yang dapat memicu volatilitas di pasar obligasi global. Pertanyaannya, apakah pasar obligasi global, termasuk di Indonesia, mampu menyerap gelombang pasokan ini tanpa gejolak yang berarti? Atau justru akan menjadi pemicu koreksi yang lebih dalam? Hanya waktu yang akan menjawab, namun para pelaku pasar perlu mencermati dengan saksama.



