Slovenia Izinkan FSD Tesla: Enam Negara Eropa Setuju, Vote Uni Eropa Makin Dekat
Baca dalam 60 detik
- Slovenia resmi mengizinkan sistem bantuan mengemudi FSD Tesla beroperasi di jalan raya, menjadikannya negara Eropa keenam yang memberi lampu hijau.
- Keputusan ini muncul jelang potensi voting tingkat Uni Eropa pada 6 Oktober, yang bisa membuka jalan bagi adopsi FSD secara lebih luas di kawasan.
- Prancis, yang sebelumnya skeptis, kini mulai menguji dua kendaraan FSD, menandakan pergeseran sikap sejumlah regulator Eropa.

Ljubljana, 8 September โ Slovenia resmi menjadi negara Eropa keenam yang mengizinkan sistem bantuan mengemudi Full Self-Driving (FSD) milik Tesla beroperasi di jalan raya. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Tesla melalui akun media sosial X pada Senin (8/9), dan mendapat sambutan dari Menteri Energi dan Infrastruktur Slovenia, Jernej Vrtovec, yang turut membagikan kabar tersebut dengan nada optimistis.
Langkah Slovenia ini bukan sekadar kemenangan regulasi bagi Tesla, melainkan sinyal kuat bahwa resistensi terhadap teknologi otonom di Eropa mulai melunak. Sebelumnya, Belanda menjadi negara pertama di Uni Eropa yang memberikan persetujuan awal pada April lalu. Kini, dengan tambahan Slovenia, total enam negara Eropa telah merestui FSD, sementara Finlandia dan Yunani dikabarkan tengah mempertimbangkan hal serupa.
Yang lebih menarik, keputusan ini datang di tengah persiapan Tesla untuk menghadapi potensi voting tingkat Uni Eropa yang dijadwalkan paling cepat 6 Oktober. Pekan lalu, Tesla merilis dataset hasil pengujian di Eropa dan Amerika Utara sebagai bagian dari upaya transparansi untuk meyakinkan regulator. Jika voting tersebut menghasilkan keputusan positif, FSD bisa mendapatkan persetujuan seragam di seluruh negara anggota UE, mengubah lanskap industri otomotif Eropa secara signifikan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Meski FSD belum beroperasi di pasar domestik, regulasi kendaraan otonom di Indonesia masih dalam tahap awal. Kementerian Perhubungan telah menyusun rancangan regulasi untuk kendaraan otonom, namun implementasinya masih jauh. Adopsi FSD di Eropa bisa menjadi tolok ukur bagaimana negara berkembang seperti Indonesia menyikapi teknologi serupa, terutama dalam hal keselamatan dan infrastruktur pendukung.
Namun, tidak semua negara Eropa bergerak cepat. Prancis, yang pada Juli sempat mengangkat isu keamanan terkait FSD, baru pekan lalu memulai pengujian dua kendaraan ber-FSD setelah Menteri Transportasinya melakukan dialog dengan Elon Musk. Sikap Prancis yang berubah ini menunjukkan bahwa pendekatan bertahap dengan pengawasan ketat lebih diterima daripada penolakan total.
Badan Keselamatan Lalu Lintas Slovenia, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa persetujuan ini merupakan contoh konkret bagaimana teknologi baru dapat diintegrasikan secara bertahap ke dalam sistem transportasi dengan pengawasan regulasi yang tepat. Mereka menekankan bahwa meski Slovenia terbuka terhadap inovasi, keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah negara-negara Eropa lainnya, termasuk Jerman dan Italia yang memiliki industri otomotif kuat, akan mengikuti jejak Slovenia. Jika voting UE pada Oktober berhasil, FSD bisa menjadi standar baru di Eropa, memaksa produsen lain untuk berinovasi lebih cepat. Bagi konsumen, ini berarti pilihan kendaraan dengan teknologi otonom akan semakin luas, namun juga memunculkan pertanyaan tentang kesiapan regulasi dan infrastruktur di negara-negara berkembang seperti Indonesia.



