Dari Nol ke Delapan Besar: Perjalanan Epik Netball Tonga ke Glasgow
Baca dalam 60 detik
- Salote Sisifa mengubah netball Tonga dari sekadar permainan sosial menjadi kekuatan peringkat 8 dunia dalam satu dekade.
- Bencana alam 2022 nyaris menghancurkan program, namun pelatih dan pemain tetap solid meski tanpa fasilitas.
- Debut Commonwealth Games melawan Australia menjadi puncak perjuangan yang menginspirasi, termasuk bagi atlet Indonesia.

Empat tahun lalu, netball Tonga nyaris tidak memiliki identitas. Kini, tim yang lahir dari keterbatasan itu bersiap melakoni debut Commonwealth Games di Glasgow, menghadapi Australia—raksasa dunia yang nyaris tak terkalahkan. Di balik lompatan ini, ada tekad baja seorang mantan pembaca berita yang mempertaruhkan kariernya.
Salote Sisifa mengambil alih sebagai CEO Tonga Netball pada 2014. Kantornya kosong: tidak ada tim, pelatih, apalagi lapangan. "Beri saya lima tahun. Jika gagal, saya akan mundur," katanya kepada federasi nasional. Target itu kini terlampaui: Tonga bertengger di peringkat 8 dunia, hanya kalah dari Wales dan unggul atas Skotlandia serta Irlandia Utara.
Perjalanan menuju puncak tidak pernah linear. Pada 2022, letusan gunung berapi bawah laut Hunga-Tonga Hunga-Haʻapai—kekuatannya ratusan kali bom Hiroshima—diikuti tsunami dan pandemi Covid-19 yang datang terlambat, melumpuhkan negeri. Pelatih Jaqua Pori-Makea-Simpson, yang tengah berada di luar negeri, harus merakit skuad dari media sosial. "Saya tidak tahu nama mereka. Mereka juga tidak saling kenal," ujarnya. Para pemain baru bertemu lima hari sebelum turnamen di Bandara Sydney.
Model perekrutan yang tak lazim ini justru menjadi kekuatan. Salah satunya adalah Uneeq Palavi, penembak jitu yang awalnya menolak panggilan. Sisifa memanfaatkan nenek Palavi yang keturunan Tonga untuk membujuk. Hasilnya, Palavi menjadi andalan yang merasakan ikatan spiritual bersama tim. "Bermain untuk Tonga seperti bersama 15 saudari kandung," katanya.
Kisah Tonga bukan sekadar cerita olahraga. Ia tentang bagaimana rasa memiliki dan budaya mampu mengatasi keterbatasan logistik. Pelatih Pori-Makea-Simpson, yang bukan warga Tonga, menyebut ikatan itu sebagai spiritualitas bawaan, bukan sekadar solidaritas. "Mereka bangga bukan karena kami menang, tetapi karena kami memakai lambang Tonga," tambahnya.
Pelajaran bagi Indonesia? Meski netball belum populer di Tanah Air, semangat akar rumput dan pantang menyerah menjadi benang merah. Seperti atlet Indonesia yang sering berjuang dengan fasilitas minim, Tonga membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk bersaing di level global. Kementerian Olahraga atau federasi netball Indonesia bisa menimba inspirasi dari model rekrutmen berbasis komunitas dan budaya.
"Saya pikir orang non-Pasifik menyebutnya kekompakan. Tapi itu bukan sekadar itu. Ini adalah spiritualitas bawaan yang menghubungkan mereka," ujar Jaqua Pori-Makea-Simpson, pelatih kepala Tonga.
Pada pertandingan pertama melawan Australia, skor mungkin tidak akan berpihak pada Tonga. Namun, seperti kata pelatih, kebanggaan tidak terletak pada angka di papan skor. Pertanyaan besarnya: dapatkah semangat Tala—burung langka simbol harapan—terbang lebih tinggi di Glasgow dan menjadi legenda baru Oseania?



