Ramsay-Peaty Gagal Raih Emas Lagi, 'Tidak Ada yang Masuk Akal'
Baca dalam 60 detik
- Perenang Inggris Adam Ramsay-Peaty kembali harus puas dengan perunggu di nomor 50 meter gaya dada Commonwealth Games, tertinggal 0,44 detik dari Sam Williamson asal Australia.
- Ramsay-Peaty, yang sempat mendominasi selama delapan tahun, tengah berjuang dengan performa setelah pergantian pelatih dan perubahan pusat latihan pasca-Olimpiade Paris 2024.
- Legenda renang dunia itu mengaku kebingungan dengan hasilnya dan akan mengevaluasi pendekatan latihan demi bersaing di Olimpiade Los Angeles 2028.

Adam Ramsay-Peaty, perenang gaya dada terhebat sepanjang masa, kembali gagal mempertahankan mahkotanya di ajang Commonwealth Games. Setelah meraih perunggu pada nomor 100 meter, pekan lalu, ia harus puas dengan posisi yang sama di nomor 50 meter dengan catatan waktu 26,94 detik—terpaut 0,44 detik dari Sam Williamson yang menjadi juara. Hasil ini memunculkan tanda tanya besar: apakah era dominasi pria 31 tahun itu telah berakhir?
Bagi perenang asal Inggris ini, kekalahan kedua di Glasgow terasa lebih pahit karena ia adalah juara bertahan Commonwealth Games dan memegang rekor dunia untuk nomor 50 meter. Namun, sejak Olimpiade Paris 2024, performanya menurun drastis. Setelah pelatih lamanya, Mel Marshall, pindah ke Australia pada 2024, Ramsay-Peaty sempat berlatih di Repton, Derbyshire, sebelum akhirnya kembali ke London di bawah bimbingan Lisa Bates. Perubahan ini disebutnya sebagai bagian dari proses adaptasi yang belum rampung.
“Saya bekerja sangat keras, tetapi hasilnya tidak sebanding. Jika hasil ini menggambarkan kerja keras saya, seharusnya lebih baik,” ujarnya kepada BBC Sport. “Saya perlu melihat lagi arah latihan karena kami sedang berlayar di laut yang bergelombang. Ini tidak bisa dipertahankan.”
Meski demikian, Ramsay-Peaty menegaskan bahwa ia belum menyerah. “Saya sudah bangkit dari kondisi yang lebih buruk. Kami akan lihat ke mana arahnya,” katanya. Ia sebelumnya mengisyaratkan bahwa nomor 50 meter adalah peluang terbaiknya di Olimpiade 2028 mengingat usianya yang kian matang. Namun, hasil Commonwealth Games ini menjadi sinyal bahwa persaingan di nomor pendek semakin ketat, terutama dari perenang Australia seperti Williamson.
Bagi Indonesia, perjuangan Ramsay-Peaty menjadi pengingat bahwa transisi pelatih dan pusat latihan dapat memengaruhi performa atlet papan atas. Federasi Renang Indonesia (PRSI) bisa memetik pelajaran tentang pentingnya kontinuitas pembinaan. Di sisi lain, kegagalan sang legenda menunjukkan bahwa regenerasi di renang dunia berjalan cepat, dan Indonesia perlu mempercepat pengembangan bibit perenang agar mampu bersaing di level tertinggi. Ke depan, mata dunia akan tertuju pada bagaimana Ramsay-Peaty mengarungi sisa kariernya—akankah ia kembali ke puncak, atau justru tenggelam oleh gelombang generasi baru?



