Jamie Oliver Desak PM Baru Inggris Prioritaskan Gizi Anak: 'Ini Peluang Ubah Wajah Partai Buruh'
Baca dalam 60 detik
- Chef selebriti Jamie Oliver mendesak Perdana Menteri Inggris yang baru, Andy Burnham, untuk menjadikan kesehatan anak sebagai prioritas utama pemerintahan.
- Oliver menilai investasi jangka panjang sepuluh tahun dalam gizi dan pendidikan anak adalah kunci masa depan negara, dan belum ada pemerintahan yang serius menangani hal ini.
- Langkah larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun dinilai positif namun masih perlu penyempurnaan agar tidak hanya bersifat represif.

Jamie Oliver, koki selebriti yang dikenal gigih memperjuangkan makanan sehat di sekolah, mendesak Perdana Menteri Inggris yang baru, Andy Burnham, untuk menjadikan kesehatan anak sebagai agenda utama pemerintahannya. Dalam wawancara dengan Daily Mirror, ia menyebut momen ini sebagai peluang bagi Burnham untuk mendefinisikan ulang identitas Partai Buruh.
Sejak meluncurkan kampanye Feed Me Better pada 2005, Oliver terus mendorong kebijakan gizi anak yang lebih baik di sekolah-sekolah Inggris. Kini, dengan kepemimpinan baru di Downing Street, ia berharap terbangun kemitraan yang lebih konstruktif. Timnya telah menjalin komunikasi dengan tim Burnham, dan ia menilai Burnham sebagai sosok yang kontemporer dan berpikiran terbuka.
“Ini akan menjadi enam bulan yang menarik,” ujar Oliver. “Belum pernah ada pemerintahan yang menjadikan kesehatan anak sebagai prioritas dalam pemilu. Ketika kita bicara soal kesehatan dan pendidikan anak, itu hanya sekejap mata—tapi investasinya sepuluh tahun. Ini adalah masa depan seluruh negeri.”
Oliver juga memberikan tanggapan terhadap kebijakan pendahulu Burnham, Sir Keir Starmer, yang melarang penggunaan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Meski menyebut larangan tersebut “kasar”, ia mengakuinya sebagai langkah awal yang positif. “Anak-anak pasti akan mencari celah. Tujuan akhirnya adalah menata ulang etika digital: apa yang adil, legal, dan pantas,” jelasnya. Ia mencontohkan putranya yang berusia sembilan tahun melakukan kerajinan tangan daring bersama teman-teman—sebuah aktivitas yang menurutnya sangat sehat.
Di Indonesia, isu gizi anak juga menjadi sorotan. Program makan siang gratis di sekolah yang digagas oleh beberapa daerah masih menghadapi kendala pendanaan dan konsistensi. Sosok seperti Jamie Oliver dapat menjadi inspirasi bagi figur publik lokal untuk mengadvokasi perbaikan gizi anak secara berkelanjutan. Tanpa komitmen politik jangka panjang, upaya serupa kerap terhenti di tengah jalan.
“Ini adalah kesempatan bagi Burnham untuk menata ulang apa yang diperjuangkan Partai Buruh.” — Jamie Oliver
Di balik kampanyenya, Oliver mengaku kini menikmati fase terbaik hidupnya di usia 50 tahun. Ia lebih fokus pada kesehatan, tidur, pekerjaan, dan waktu bersama keluarga. “Saya mencoba menjadi sedikit lebih egois untuk hal-hal yang benar-benar penting,” tuturnya.
Ke depan, publik menanti apakah pemerintahan Burnham akan benar-benar menjadikan anak sebagai prioritas utama—atau hanya sekadar wacana. Bagi Indonesia, pertanyaannya serupa: akankah para pemimpin berani berinvestasi jangka panjang demi generasi mendatang?



