Investor Mulai Jual Saham Tesla dan SpaceX, Janji Ambisius Elon Musk Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Saham Tesla anjlok 15% setelah pendapatan meleset dan arus kas negatif pertama dalam dua tahun, menghapus US$215 miliar kapitalisasi pasar.
- SpaceX kehilangan hampir setengah nilai puncaknya akibat penundaan Starship dan kekhawatiran lock-up saham yang akan menambah pasokan saham hampir dua kali lipat.
- Kesabaran investor menipis karena target ambisius Musk seperti Robotaxi dan Optimus belum terealisasi, memicu spekulasi merger Tesla-SpaceX untuk fokus pada AI.

Kekaisaran bisnis Elon Musk tengah menghadapi ujian terberat sejak ia dinobatkan sebagai triliuner pertama dunia. Investor yang sebelumnya memuja ambisi pendiri Tesla dan SpaceX itu kini mulai menjauh, setelah dua perusahaan andalannya melaporkan kinerja yang mengecewakan dan target-target ambisius yang terus meleset.
Saham Tesla ambles 15% dalam sepekan terakhir, menurut data The Wall Street Journal, menghapus nilai pasar sekitar US$215 miliar. Penyebabnya adalah laporan pendapatan yang gagal memenuhi ekspektasi analis dan arus kas negatif untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Di sisi lain, SpaceX yang baru melantai di bursa dengan harga IPO US$135 per saham dan sempat melonjak ke US$225, kini telah terkoreksi hampir 50% dari puncaknya, bahkan sempat diperdagangkan di bawah harga IPO.
Tekanan terhadap SpaceX bertambah setelah uji coba roket Starship ditunda akibat masalah mesin pendorong. Investor juga cemas menjelang berakhirnya masa lock-up saham pada 6 Agustus, yang akan membuka pintu bagi pemegang saham lama dan orang dalam untuk menjual kepemilikan merekaโsekitar 911,5 juta saham baru, hampir dua kali lipat jumlah yang beredar saat ini.
Mantan eksekutif industri satelit Samer Halawi menilai transisi SpaceX dari perusahaan privat ke publik telah mengubah dinamika secara fundamental. โAkses terhadap modal kini akan diawasi dengan ketat. Investor mengharapkan imbal hasil. Anda tidak bisa lagi beroperasi seperti sebelumnya,โ ujarnya kepada The Wall Street Journal.
Di dalam tubuh Tesla, kekecewaan investor makin nyata. Dalam konferensi pers kinerja keuangan, sejumlah investor individu melontarkan pertanyaan tajam soal lambatnya ekspansi Robotaxi. Padahal, pada Januari lalu Musk berjanji layanan tersebut akan hadir di seperempat hingga setengah wilayah Amerika Serikat sebelum akhir tahun. Kenyataannya, hingga Juli baru tujuh kota yang terlayani. Proyek robot humanoid Optimus generasi ketiga juga belum dijadwalkan ulang setelah janji demonstrasi kuartal pertama meleset. Sementara itu, produksi massal truk listrik Semi baru akan dimulai "segera", tanpa kepastian jadwal.
Kritik juga datang dari kalangan pendukung setia. Dillon Loomis, seorang influencer Tesla, menulis di platform X bahwa kebiasaan Musk mengumumkan target yang tidak realistis hanya merugikan perusahaan dan penggemar. โJika target-target itu masih sangat tidak pasti, sebaiknya jangan diumumkan ke publik,โ tulisnya.
Di tengah tekanan, muncul spekulasi bahwa Musk dapat menggabungkan Tesla dan SpaceX menjadi satu entitas yang fokus pada kecerdasan buatan. Dalam kesempatan terpisah, Musk mengakui adanya sinergi yang semakin erat, terutama dalam proyek pengembangan chip AI di Texas. Namun, ia menegaskan bahwa pembahasan merger tidak bisa dilakukan dalam forum konferensi pers dan harus melalui proses tata kelola yang sesuai.
Bagi investor Indonesia, gejolak di dua perusahaan ini patut dicermati. Saham Tesla dan SpaceX tidak tercatat di bursa domestik, tetapi pergerakannya kerap mempengaruhi sentimen pasar global, termasuk sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia. Jika valuasi kedua perusahaan terus tertekan, dampaknya bisa merembet ke saham-saham terkait rantai pasok kendaraan listrik dan energi baru terbarukan di Asia Tenggara.
Ke depan, kesabaran investor akan diuji oleh sejumlah milestone penting: keberhasilan uji coba Starship berikutnya, realisasi pendapatan dari peluncuran satelit Starlink generasi baru, serta kemampuan Tesla mempercepat komersialisasi Robotaxi dan Optimus. Jika target-target itu kembali meleset, bukan tidak mungkin aksi jual akan berlanjut dan menggoyahkan posisi Musk sebagai ikon inovasi global.



