Gencatan Senjata Lebanon-Israel Runtuh: 11 Tewas Termasuk Bayi dalam Serangan Udara Terbaru
Baca dalam 60 detik
- Serangan udara Israel di Lebanon selatan menewaskan 11 orang, termasuk dua bayi, dan melukai puluhan lainnya, memicu kekhawatiran akan runtuhnya gencatan senjata yang rapuh.
- Israel menuduh Hizbullah melanggar gencatan senjata dengan serangan drone dan upaya membangun kembali kekuatan militer, sementara Hizbullah belum mengklaim serangan apa pun sejak 20 Juni.
- Eskalasi ini berpotensi menggagalkan upaya diplomasi regional dan menimbulkan ketidakpastian baru bagi stabilitas Timur Tengah, dengan dampak tidak langsung pada harga minyak dan sentimen pasar global.

Gencatan senjata yang selama ini menahan eskalasi konflik di perbatasan Lebanon-Israel kembali terusik. Pada Senin (7/9) dini hari, gelombang serangan udara Israel menghantam permukiman di Lebanon selatan, menewaskan sedikitnya 11 warga sipil, termasuk dua bayi. Peristiwa ini terjadi hanya sehari setelah serangan terpisah yang menewaskan tujuh orang, menandakan kerapuhan perjanjian damai yang baru disepakati beberapa bulan lalu.
Serangan terbaru ini memusatkan diri di wilayah Nabatieh, khususnya desa Kfar Rumman. Menurut Badan Berita Nasional Lebanon (NNA), sebuah gedung hunian tiga lantai rata dengan tanah, menewaskan sembilan orang. Dua petugas penyelamat yang tengah melintas dengan mobil juga menjadi korban, salah satunya masih berusia 18 tahun. Insiden ini terjadi setelah Israel mengklaim telah merebut punggung bukit strategis Ali al-Taher dari Hizbullah pada Kamis lalu, klaim yang hingga kini belum ditanggapi kelompok bersenjata yang didukung Iran tersebut.
Ketegangan sebenarnya telah mereda sejak Juni, setelah adanya nota kesepahaman antara Washington dan Teheran mengenai perang di Timur Tengah, yang kemudian diikuti kerangka kesepakatan Israel-Lebanon. Namun, pada Senin, Kementerian Luar Negeri Israel menuding Hizbullah melakukan "serangan drone berulang" dan berupaya "membangun kembali kapabilitas militernya" di Lebanon selatan, sebuah pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata yang mewajibkan pelucutan senjata kelompok tersebut.
Di lapangan, suasana mencekam dan kepanikan terasa. Warga yang baru saja kembali ke rumah mereka setelah pengungsian akibat perang kini kembali dihantui ketakutan. "Sejak kami kembali ke sini, kami hidup dalam ketakutan," ujar Fouad Chakaron, seorang warga, kepada AFP. Ia bersikeras bahwa bangunan yang dihantam tersebut dihuni oleh "orang-orang damai yang tidak terhubung dengan siapa pun". Abbas Toufeili, warga lain, menuturkan bagaimana ia mendapat telepon dari tentara Israel pada pukul 2 pagi dan diperintahkan untuk mengungsi karena rumahnya akan menjadi sasaran. "Saya bilang itu mustahil, mengapa rumah saya menjadi sasaran? Tidak ada apa-apa di dalamnya. Saya tidak percaya," katanya. Ia dan keluarganya, termasuk ibu lanjut usia, terpaksa keluar rumah hanya dengan piyama dan menyaksikan rumah mereka hancur dari kejauhan.
Israel mengaku tidak memberikan peringatan dini untuk Kfar Rumman, namun mengeluarkan perintah evakuasi untuk serangan terpisah di Deir Zahrani. Militer Israel, dalam pesan berbahasa Arab, menyatakan bahwa mereka menargetkan "fasilitas teroris Hizbullah" dan memperingatkan warga yang masih berada di area tersebut. Di sisi lain, Hizbullah belum mengklaim serangan apa pun sejak 20 Juni, dan militer Israel juga tidak merinci apakah ada tentaranya yang terluka akibat dua drone yang diluncurkan Hizbullah.
Bagi Indonesia, konflik ini bukan sekadar berita mancanegara. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020, Indonesia memiliki kepentingan historis dalam perdamaian Timur Tengah. Eskalasi ini dapat memicu kembali gelombang protes dan sentimen anti-Israel di dalam negeri, serta berpotensi mempengaruhi kebijakan luar negeri Indonesia yang selama ini konsisten mendukung perjuangan Palestina. Lebih jauh, ketidakstabilan di kawasan penghasil minyak utama dunia ini dapat berdampak pada fluktuasi harga energi global, yang pada akhirnya mempengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat Indonesia.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, telah mendesak Washington dan komunitas internasional untuk turun tangan menghentikan serangan Israel. Namun, dengan Israel yang terus mengintensifkan serangan dan Hizbullah yang belum menunjukkan tanda-tanda mundur, gencatan senjata yang rapuh ini berada di ujung tanduk. Pertanyaannya kini, apakah komunitas internasional mampu menahan laju eskalasi ini sebelum berubah menjadi perang skala penuh yang lebih destruktif? Atau akankah Timur Tengah kembali terjerumus ke dalam siklus kekerasan yang tak berkesudahan, dengan dampak yang terasa hingga ke Indonesia?



