Prediction Market Kalshi dan Polymarket Bidik Dana Institusi, Valuasi Melejit ke US$40 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Platform prediction market Kalshi dan Polymarket mencatat transaksi miliaran dolar dan valuasi US$40 miliar, mengincar investor institusional sebagai sumber pertumbuhan baru.
- Tantangan utama meliputi dominasi pasar olahraga (70%+ transaksi), kasus insider trading, dan regulasi yang belum jelas, menghambat masuknya dana besar.
- Meski berpotensi menjadi bursa derivatif masa depan, sifat zero-sum dan kurangnya fasilitas margin membuat investor institusi masih wait and see.

Prediction market—platform tempat publik bertaruh pada hasil pemilu, kebijakan bank sentral, hingga peristiwa olahraga—kini tidak hanya sekadar ajang spekulasi ritel. Kalshi dan Polymarket, dua pemain utama di sektor ini, mulai menyasar investor institusional sebagai sumber ekspansi berikutnya. Kalshi kabarnya tengah menggalang pendanaan dengan valuasi US$40 miliar, sementara Polymarket diperkirakan bernilai US$15 miliar, menandai lompatan besar dari sekadar platform taruhan daring.
Gagasan ini lahir dari pengalaman Luana Lopes Lara, salah satu pendiri Kalshi, yang sebelumnya bekerja di hedge fund besar Wall Street seperti Citadel Securities. Menurutnya, banyak manajer investasi membangun strategi rumit hanya untuk mengambil posisi terhadap suatu peristiwa, seperti hasil pemilu atau keputusan suku bunga The Fed. "Yang kami bangun adalah bursa keuangan di mana siapa pun, mulai dari pedagang Robin Hood hingga Goldman Sachs, dapat bertransaksi langsung berdasarkan pandangan mereka mengenai masa depan," ujar Lopes Lara, dikutip dari The Economist.
Popularitas prediction market melesat dalam beberapa tahun terakhir. Tidak hanya investor profesional, mahasiswa dan masyarakat umum pun ikut menguji kemampuan membaca peristiwa. Namun, untuk mempertahankan momentum, platform harus mampu menarik partisipasi institusi seperti hedge fund dan asset manager yang memiliki kapasitas transaksi jauh lebih besar. Beberapa perusahaan perdagangan frekuensi tinggi bahkan telah berperan sebagai market maker untuk menjaga likuiditas.
Meski menjanjikan, prediction market menghadapi tantangan serius. Dominasi pasar olahraga—lebih dari 70% transaksi—menunjukkan bahwa kontrak keuangan seperti suku bunga atau harga minyak belum diminati. Selain itu, kasus insider trading mencoreng kredibilitas: Kalshi mendeteksi seorang editor kreator konten MrBeast yang diduga memanfaatkan informasi internal, serta kandidat gubernur California yang bertaruh pada pemilihannya sendiri. Regulasi juga belum matang; CFTC tengah menyusun aturan baru untuk penyelesaian sengketa dan perlindungan investor, tetapi kepastian masih minim.
Lantas, apa artinya bagi Indonesia? Di dalam negeri, segala bentuk perjudian—termasuk prediction market berbasis uang riil—dilarang keras. OJK dan Bappebti belum memberikan payung hukum untuk platform serupa. Namun, potensi sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko geopolitik atau suku bunga bisa menjadi celah regulasi di masa depan. Investor Indonesia yang ingin bermain saat ini harus menggunakan platform luar negeri dengan risiko legal. Sementara itu, fitur margin trading yang lebih fleksibel masih dinantikan agar modal institusi tidak terkunci berbulan-bulan dalam kontrak jangka panjang.
Pertanyaan mendasar tetap menggantung: mampukah prediction market bertransformasi menjadi infrastruktur pasar keuangan yang setara bursa derivatif? Sifat zero-sum—keuntungan satu pihak adalah kerugian pihak lain—membuat investor profesional enggan terlibat tanpa keunggulan informasi. Jika Kalshi dan Polymarket berhasil mengatasi hambatan regulasi dan membangun kepercayaan, bukan tidak mungkin institutional money akan mengalir deras. Namun, hingga saat itu tiba, platform ini masih harus membuktikan diri sebagai arena yang adil dan efisien bagi semua pemain.



