Kemenangan AfD di Sachsen-Anhalt: Pukulan Telak bagi Partai Arus Utama Jerman
Baca dalam 60 detik
- Partai sayap kanan AfD meraih 43,8% suara dalam pemilu negara bagian Sachsen-Anhalt, melampaui perkiraan jajak pendapat dan mengubah peta politik Jerman timur.
- Kemenangan ini dipicu oleh tingginya partisipasi pemilih, kekhawatiran atas imigrasi dan ekonomi, serta ketidakpuasan terhadap pemerintah federal yang dianggap tidak peka.
- Keberhasilan AfD berpotensi mengubah arah kebijakan di negara bagian tersebut dan menekan Kanselir Friedrich Merz untuk mengambil sikap lebih keras, dengan implikasi bagi stabilitas politik Jerman secara keseluruhan.

Partai sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD) mencatat kemenangan telak dalam pemilihan negara bagian Sachsen-Anhalt pada 6 September lalu, meraup 43,8 persen suara—hasil yang jauh melampaui proyeksi jajak pendapat dan mengguncang tatanan politik Jerman timur. Kemenangan ini tidak hanya mengukuhkan AfD sebagai kekuatan dominan di wilayah tersebut, tetapi juga menjadi sinyal bahaya bagi partai-partai arus utama yang selama ini memegang kendali pemerintahan.
Partai Demokrat Kristen (CDU) yang sebelumnya berkuasa di Sachsen-Anhalt harus menerima kenyataan pahit. Perolehan suaranya anjlok drastis dari 37,1 persen pada 2021 menjadi hanya 17,2 persen—sebuah penurunan yang jauh lebih buruk dari prediksi. Sementara itu, tingkat partisipasi pemilih melonjak hingga 78 persen, dan analisis menunjukkan bahwa sebagian besar pemilih baru berasal dari kalangan yang sebelumnya tidak memilih, ditambah mantan pendukung CDU yang berpaling.
Polarisasi yang tajam terlihat jelas: 41 persen pemilih menginginkan pemerintahan yang dipimpin AfD, sementara 46 persen memilih CDU. Namun, dinamika ini justru menguntungkan Partai Sosial Demokrat (SPD) dan Partai Hijau, yang mendapat dukungan taktis dari pemilih CDU dan Partai Kiri untuk memastikan mereka melampaui ambang batas parlemen 5 persen.
Kemenangan AfD tidak bisa direduksi menjadi sekadar isu imigrasi. Meskipun 91 persen pemilih AfD mengaku khawatir dengan banyaknya orang asing di Jerman, survei keluar menunjukkan kekhawatiran yang sama besarnya terhadap keamanan dan ekonomi. Ketidakpuasan terhadap pemerintah negara bagian yang dipimpin CDU sejak 2002 juga mencapai 66 persen, sementara 83 persen pemilih menilai pemerintahan Kanselir Friedrich Merz di Berlin tidak cukup memperhatikan masalah rakyat kecil. Hanya 20 persen yang percaya pemerintah federal mampu membawa perbaikan signifikan.
Fenomena ini diperkuat oleh sentimen khas Jerman timur: 73 persen pemilih merasa warga timur masih diperlakukan sebagai warga kelas dua. AfD berhasil memanfaatkan kekecewaan pasca-reunifikasi dan nostalgia akan masa lalu komunis untuk menggalang dukungan. Dengan dukungan lintas usia—kecuali kelompok di atas 70 tahun—dan latar belakang pendidikan, AfD kini layak disebut sebagai "partai rakyat" di Sachsen-Anhalt.
Langkah AfD selanjutnya adalah membentuk pemerintahan. Kandidatnya, Ulrich Siegmund, berpeluang besar menjadi menteri presiden melalui koalisi dengan Aliansi Sahra Wagenknecht (BSW), partai yang menggabungkan kebijakan ekonomi kiri dengan pandangan konservatif soal migrasi. BSW sendiri menyatakan adanya "tumpang tindih" dengan AfD dan menganggap tidak demokratis jika AfD dikucilkan sepenuhnya. Jika gagal, AfD bisa memanfaatkan suara dari anggota CDU yang selama ini terbuka untuk bekerja sama, mengingat pemilihan menteri presiden bersifat rahasia.
Kemenangan ini menempatkan Kanselir Merz dalam posisi sulit. Popularitasnya yang rendah diperkirakan akan semakin tertekan, terutama dengan pemilu negara bagian Mecklenburg-Vorpommern pada 21 September yang diprediksi menjadi pertarungan sengit antara AfD dan SPD. Tekanan dari internal partainya sendiri pun muncul: sebagian anggota CDU mendesak pergeseran ke kanan untuk menutup celah yang dieksploitasi AfD, sementara yang lain ingin membuka kembali paket reformasi seperti pensiun demi merebut kembali pemilih kelas pekerja. Namun, langkah ini bertentangan dengan rencana Merz untuk memulihkan ekonomi Jerman yang lesu.
Bagi Indonesia, dinamika politik Jerman ini relevan sebagai cermin bagaimana kegagalan pemerintah pusat dalam mengelola ekonomi dan persepsi ketidakadilan regional dapat memicu kebangkitan politik populis. Jerman, sebagai kekuatan ekonomi Eropa, juga merupakan mitra dagang utama Indonesia di Uni Eropa. Ketidakstabilan politik di Berlin dapat mempengaruhi kebijakan perdagangan dan investasi, termasuk dalam negosiasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA) yang sedang berjalan. Selain itu, pengalaman Jerman dalam menangani sentimen anti-imigran bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam mengelola isu-isu sosial yang berpotensi memecah belah.
Pertanyaan besar yang kini menggantung: apakah Jerman mampu keluar dari fragmentasi politik yang semakin dalam, atau justru akan terus terperosok ke dalam ketidakstabilan yang menguntungkan kekuatan ekstrem? Sachsen-Anhalt mungkin telah memberikan jawaban awal, namun konsekuensi jangka panjangnya masih menjadi tanda tanya besar bagi masa depan demokrasi Jerman.



