Empat Platform Ride-Hailing Singapura Perpanjang Biaya BBM hingga Akhir September
Baca dalam 60 detik
- Grab, Gojek, CDG Zig, dan Tada sepakat memperpanjang biaya tambahan bahan bakar untuk pengemudi hingga 30 September 2024.
- Biaya tambahan berkisar S$0,50 hingga S$1,20 per perjalanan, disalurkan penuh ke pengemudi tanpa dipotong komisi platform.
- Kenaikan harga BBM dipicu konflik Timur Tengah yang masih berlangsung, berdampak pada biaya operasional transportasi online.

Empat perusahaan ride-hailing terbesar di Singapura—Grab, Gojek, ComfortDelGro CDG Zig, dan Tada—memutuskan memperpanjang masa berlaku biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) bagi pengemudi hingga 30 September 2024. Keputusan ini diumumkan Asosiasi Kendaraan Sewa Pribadi Nasional (NPHVA) melalui unggahan Facebook pada Rabu (22/7), setelah serangkaian negosiasi dengan para operator.
Biaya tambahan ini merupakan respons terhadap harga bahan bakar yang terus melambung sejak pecahnya konflik di Timur Tengah akhir Februari lalu. Menurut data Motorist Singapore, harga bensin 95 oktan per Kamis (23/7) berada di kisaran S$3,36–S$3,37 per liter, naik signifikan dari S$2,87–S$2,88 per liter sebelum perang. Lonjakan ini memukul kantong pengemudi yang menggantungkan pendapatan dari tarif perjalanan.
Masing-masing platform menerapkan skema berbeda. Grab membebankan biaya S$0,90 untuk semua layanan kecuali taksi standar dan argo. Gojek menerapkan tarif seragam S$0,90 untuk seluruh jarak tempuh. ComfortDelGro melalui CDG Zig mematok S$0,50 untuk tarif di bawah S$15 dan S$0,80 untuk tarif di atasnya. Sementara Tada memungut S$0,90 untuk perjalanan hingga S$18 dan S$1,20 untuk perjalanan di atas S$18,10. NPHVA menegaskan seluruh biaya ini disalurkan utuh ke pengemudi dan tidak dikenakan komisi platform.
Kebijakan ini berpotensi menjadi preseden bagi industri ride-hailing di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dengan harga BBM di dalam negeri yang juga rentan terhadap gejolak global, platform seperti Gojek dan Grab—yang beroperasi di Indonesia—dapat menghadapi tekanan serupa. Namun, regulasi tarif transportasi online di Indonesia yang lebih ketat, termasuk batas atas dan bawah, mungkin membatasi fleksibilitas penyesuaian biaya. Pengamat transportasi menilai bahwa jika harga minyak terus merangkak naik, bukan tidak mungkin skema serupa diterapkan di pasar Indonesia, meski harus melalui koordinasi dengan Kementerian Perhubungan.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah dunia turut mendorong keputusan ini. Pada Kamis (23/7), harga minyak melonjak lebih dari 1,5% ke level tertinggi dalam enam pekan terakhir, dipicu serangan baru AS di Iran dan serangan Houthi terhadap kapal tanker di Laut Merah. Situasi geopolitik yang masih memanas membuat prospek penurunan harga BBM dalam waktu dekat tipis. NPHVA berkomitmen terus berdialog dengan operator untuk mencari solusi jangka panjang, termasuk insentif bahan bakar atau subsidi langsung.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah perpanjangan ini akan menjadi permanen atau hanya jeda sementara. Jika konflik Timur Tengah berlarut, biaya tambahan bisa menjadi fitur tetap dalam tarif ride-hailing. Bagi konsumen, ini berarti ongkos perjalanan yang lebih mahal; bagi pengemudi, setidaknya ada kepastian pendapatan di tengah tekanan biaya hidup. Semua mata kini tertuju pada pergerakan harga minyak dan kebijakan platform di kuartal keempat.



