Per Mertesacker Resmi Jabat Direktur Olahraga DFB, Bersanding dengan Jürgen Klopp
Baca dalam 60 detik
- Mantan bek Arsenal dan juara Piala Dunia 2014, Per Mertesacker, ditunjuk sebagai managing director for sport DFB mulai 1 Januari 2027 dengan kontrak hingga Piala Dunia 2030.
- Penunjukan ini bertepatan dengan pengangkatan Jürgen Klopp sebagai pelatih kepala timnas Jerman, menandai era baru sinergi antara tim senior dan pembinaan usia muda.
- Mertesacker membawa pengalaman memimpin akademi Arsenal selama bertahun-tahun, yang diharapkan memperkuat rantai suplai pemain muda ke tim nasional Jerman.

Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) resmi menunjuk Per Mertesacker sebagai managing director for sport, menggantikan Andreas Rettig. Mantan bek tengah berusia 41 tahun itu akan mulai bertugas pada 1 Januari 2027 dengan kontrak yang berlaku hingga Piala Dunia 2030.
Mertesacker, yang pernah membela Hannover, Werder Bremen, dan Arsenal, serta menjadi bagian dari skuad juara Piala Dunia 2014 di Brasil, dianggap sebagai figur ideal untuk menjembatani tim senior dengan program pembinaan usia muda. Tugas utamanya adalah memperkuat koneksi antara tim nasional senior dan tim junior, sebuah area yang selama ini menjadi perhatian DFB pasca kegagalan di Piala Dunia 2022.
Penunjukan ini terjadi pada hari yang sama dengan pengumuman Jürgen Klopp sebagai pelatih kepala timnas Jerman. Keduanya diikat kontrak hingga 2030, menandai komitmen jangka panjang DFB untuk membangun fondasi yang kokoh. Mertesacker dan Klopp diharapkan bekerja sama erat, mengingat keduanya memiliki visi serupa tentang pengembangan pemain.
Pengalaman Mertesacker di akademi Arsenal menjadi modal berharga. Selama memimpin pembinaan muda The Gunners, ia berhasil melahirkan sejumlah talenta yang kini bermain di level tertinggi. DFB berharap pendekatan modernnya dapat mereformasi sistem pembinaan Jerman yang sempat kehilangan arah setelah era 2014.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, langkah DFB ini menarik untuk dicermati. PSSI sendiri tengah berupaya memperbaiki sistem pembinaan usia muda, termasuk dengan menggandeng pelatih asing dan membangun akademi. Model Jerman yang mengintegrasikan manajer olahraga dengan pelatih kepala bisa menjadi referensi bagi federasi sepak bola di Tanah Air. Apalagi, Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 dan memiliki target jangka panjang untuk bersaing di level Asia.
Klopp dan Mertesacker dihadapkan pada tugas berat: mengembalikan kejayaan Jerman yang sempat meredup. Kegagalan di Piala Dunia 2022 dan performa inkonsisten di turnamen terkini menjadi pekerjaan rumah utama. Dengan kombinasi pengalaman kepelatihan kelas dunia dan keahlian pembinaan muda, DFB optimistis era baru ini akan membawa Jerman kembali ke puncak sepak bola global.
Pertanyaan besarnya, akankah sinergi antara Klopp dan Mertesacker mampu menghasilkan generasi emas baru Jerman seperti era 2010-2014? Atau justru akan menghadapi tantangan adaptasi yang tidak mudah? Hanya waktu yang akan membuktikan, namun langkah berani DFB ini patut diapresiasi sebagai investasi jangka panjang.



