Freiburg di Persimpangan: Membuktikan Kejutan Europa League Bukan Sekadar Mimpi
Baca dalam 60 detik
- SC Freiburg mengukir sejarah dengan lolos ke final Europa League 2025/26, tetapi kini wajib membuktikan konsistensi di musim baru.
- Kehilangan bintang Johan Manzambi ke Aston Villa menjadi pukulan berat, namun lini pertahanan kokoh dan rekrutan baru diharapkan mengompensasi.
- Kesuksesan Freiburg menjadi studi kasus bagi klub-klub Asia, termasuk Indonesia, dalam membangun tim dengan sumber daya terbatas.

SC Freiburg mengakhiri musim 2025/26 dengan catatan gemilang: finis ketujuh Bundesliga, semifinal DFB Pokal, dan untuk pertama kalinya melaju ke final Europa League. Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai—membuktikan bahwa pencapaian tersebut bukanlah sekadar keberuntungan satu musim.
Di bawah asuhan Julian Schuster, suksesor legenda Christian Streich, Freiburg menjelma menjadi raksasa pembunuh. Kemenangan telak 4-1 atas RB Leipzig di laga pamungkas Bundesliga memastikan tiket Eropa ketiga berturut-turut. Perjalanan ke final Europa League, meski berakhir dengan kekalahan 0-3 dari Aston Villa di Istanbul, meninggalkan kesan mendalam. “Para penggemar membawa kami ke sini, mereka ada di saat sulit,” ujar Vincenzo Grifo, yang mencatatkan lima gol dan empat assist di Eropa musim lalu. “Anda bermain untuk momen-momen seperti ini.”
Namun, mempertahankan level performa menjadi pekerjaan rumah berat. Freiburg kehilangan permata mahkota mereka, Johan Manzambi, yang hijrah ke Aston Villa usai tampil memukau di Piala Dunia 2026. Swiss international itu mengoleksi sembilan gol dan sembilan assist dalam 58 penampilan. Meski begitu, Schuster telah menyiapkan antisipasi. Duet lini tengah Maximilian Eggestein dan Patrick Osterhage diperkuat Rihito Yamamoto dan Yannik Engelhardt. Di lini depan, trio Yuito Suzuki, Niklas Beste, dan Grifo yang musim lalu menyumbang 21 gol, kembali menjadi andalan, ditambah striker Jepang Keisuke Gotō yang didatangkan dari Anderlecht.
Kekuatan utama Freiburg terletak pada pertahanan yang disiplin. Matthias Ginter menjadi palang pintu yang tangguh, menjadikan Europa-Park Stadion benteng yang sulit ditembus. Di musim 2025/26, mereka hanya kebobolan dua gol atau lebih dalam empat pertandingan, dan selalu menang di kandang dalam seluruh laga Europa League. Filosofi klub yang mengedepankan pengembangan pemain muda dan efisiensi anggaran menuai pujian dari pelatih Bayern Munich, Vincent Kompany. “Klub kecil yang membangun segalanya dengan sumber daya sendiri. Ada filosofi dan visi,” katanya. “Julian dan para pengambil keputusan di sekelilingnya pantas dihormati.”
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Freiburg menawarkan pelajaran berharga. Di tengah dominasi klub-klub kaya, pendekatan berbasis komunitas dan kesabaran dalam membangun skuad menunjukkan bahwa ukuran bukanlah segalanya. Kehadiran pemain Jepang seperti Yuito Suzuki dan Keisuke Gotō juga memperkuat ikatan dengan Asia, membuka peluang bagi talenta dari kawasan serupa. Apakah Freiburg mampu mempertahankan posisi mereka di papan atas Bundesliga dan kembali bersaing di Eropa, atau akankah musim lalu menjadi puncak yang tak terulang? Jawabannya akan mulai terjawab saat musim 2026/27 bergulir.



