Drama Comeback Everton di Balik Kritik Tajam ke Pemilik Klub: Moyes Akui Tak Pernah Bertemu Dan Friedkin
Baca dalam 60 detik
- Everton menahan imbang Manchester United 2-2 lewat gol debutan Ainsley Maitland-Niles di masa injury time, setelah sempat tertinggal dua kali.
- Manajer David Moyes mengungkapkan belum pernah bertemu atau berbicara dengan pemilik klub, Dan Friedkin, sejak kembali menjabat pada Januari 2025.
- Pengakuan Moyes memicu reaksi keras dari pakar sepak bola Inggris, yang menilai pemilik klub tidak serius dan berpotensi mencari jalan keluar.

Everton nyaris menelan kekalahan kelima beruntun di kandang, namun gol spektakuler Ainsley Maitland-Niles pada menit akhir injury time memaksa Manchester United bermain imbang 2-2 dalam laga Premier League yang berlangsung dramatis di Stadion Hill Dickinson, Minggu (16/2). Hasil ini tidak hanya menyelamatkan wajah The Toffees, tetapi juga membuka borok hubungan antara manajer David Moyes dan pemilik klub, Dan Friedkin, yang hingga kini belum pernah berkomunikasi secara langsung.
Laga berjalan sengit sejak babak kedua. Bryan Mbeumo membawa United unggul lebih dulu, sebelum Tyrique George menyamakan kedudukan pada menit ke-83. Benjamin Sesko sempat mengembalikan keunggulan tim tamu dua menit kemudian, tetapi Maitland-Niles, yang baru bergabung di hari terakhir bursa transfer, menjadi pahlawan dengan tendangan jarak jauhnya di masa tambahan waktu. Gol itu memicu euforia suporter tuan rumah dan membuat Moyes memuji mentalitas anak asuhnya.
"Kami kebobolan gol pertama dengan cara yang buruk, tetapi saya pikir jika ada tim yang bisa memenangkan pertandingan setelah menyamakan kedudukan, itu adalah kami," ujar Moyes dalam konferensi pers usai laga, seperti dikutip Football FanCast. "Saya ingin menang di kandang sendiri. Para pemain luar biasa bisa terus berlari dan menahan tekanan lawan."
Namun, di balik kegembiraan tersebut, Moyes melontarkan pernyataan yang mengejutkan banyak pihak. Ia mengaku tidak pernah bertemu atau berbicara dengan Dan Friedkin sejak kembali menukangi Everton pada Januari 2025. Selama ini, komunikasi hanya terjalin melalui CEO Angus Kinnear dan menantu Friedkin, Rishi Majithia. Pengakuan ini langsung menuai kritik tajam dari sejumlah pengamat, termasuk presenter TalkSPORT Jeff Stelling dan mantan striker Aston Villa, Gabby Agbonlahor.
"Sepertinya pemilik klub sedang mencari jalan keluar. Mereka jelas tidak memahami sepak bola," sindir Stelling. Agbonlahor bahkan lebih blak-blakan: "Jokers. Sungguh aneh. Pemilik seharusnya segera berbicara dengan manajer." Kritik ini menambah daftar panjang ketidakpuasan terhadap kepemilikan Friedkin, yang dinilai kurang hadir dan tidak memberikan dukungan nyata bagi klub.
Kekurangan pemain di lini depan menjadi sorotan utama. Penjualan Beto ke Fiorentina dan gagalnya transfer Folarin Balogun membuat Everton kekurangan opsi mencetak gol. Moyes mengakui bursa transfer berjalan "sulit" dan ia merasa "kecewa" karena tidak banyak bergerak. Kondisi ini memunculkan spekulasi bahwa Everton akan merekrut pemain bebas transfer sebelum jendela berikutnya dibuka. Nama-nama seperti Karim Benzema dan Anthony Martial disebut-sebut sebagai kandidat potensial, meski usia dan kebugaran menjadi pertimbangan.
"Anda tidak merencanakan sebagai manajer untuk menyamakan kedudukan di menit akhir. Tetapi saya pikir para pemain melakukan hal yang luar biasa untuk terus berlari," kata Moyes, menekankan semangat juang timnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus Everton ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya hubungan harmonis antara manajer dan pemilik klub. Di tengah gencarnya investasi asing di klub-klub Eropa, kurangnya komunikasi dapat memicu ketidakstabilan performa tim. Fenomena serupa juga pernah terjadi di Liga Indonesia, di mana campur tangan pemilik atau manajemen sering kali menjadi sumber konflik internal. Everton kini berada di persimpangan: apakah Friedkin akan segera turun tangan memperbaiki komunikasi, atau justru memilih melepas klub? Jawabannya akan menentukan arah masa depan The Toffees di sisa musim ini.



