David Harbour Buka Suara: Kekayaan Tak Menyembuhkan Gangguan Mental
Baca dalam 60 detik
- Aktor Stranger Things David Harbour mengaku gangguan mentalnya tak hilang meski sudah mapan secara finansial.
- Ia menyoroti stigma bahwa kemiskinan sering disalahartikan sebagai penyebab utama masalah psikologis.
- Pengalaman Harbour menjadi pengingat bahwa kesehatan mental membutuhkan penanganan serius, terlepas dari status ekonomi.

David Harbour, aktor yang dikenal lewat perannya sebagai Chief Hopper dalam serial Stranger Things, mengungkapkan perjuangan panjangnya melawan gangguan mental. Ia mengaku sempat mengira masalah keuangan dan ketidakstabilan karier akting menjadi pemicu utama kondisinya. Namun, setelah sukses besar dan pendapatan melimpah, Harbour justru menyadari bahwa kekayaan tak otomatis menyembuhkan luka batin.
Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Harbour merenungkan hakikat gangguan mental. "Saya kadang bertanya-tanya, apakah ini benar-benar penyakit seperti yang dikatakan, atau kondisi kambuhan seperti tunawisma?" ujarnya. Ia mengakui bahwa gejala yang dialaminya terasa seperti penyakit, tetapi juga mengamati banyak orang yang mengira mereka sakit jiwa padahal sebenarnya hanya bangkrut.
Harbour menyoroti fenomena sosial di Amerika Serikat, di mana kemiskinan kerap dianggap sebagai dosa terbesar. "Ada sesuatu tentang hidup pas-pasan di East Village, khawatir soal bayar sewa, yang membuat sistem saraf tertekan," katanya. Ia juga menekankan bahwa menjadi seniman adalah pilihan hidup yang membawa konsekuensi menjelajahi wilayah psikologis yang jarang dijamah orang lain.
Pengalaman Harbour menjadi relevan bagi publik Indonesia, di mana isu kesehatan mental masih kerap dianggap tabu dan sering dikaitkan dengan masalah ekonomi. Banyak orang di Indonesia yang enggan mencari bantuan profesional karena merasa masalah mereka "hanya soal uang". Padahal, seperti diungkapkan Harbour, gangguan mental bisa menimpa siapa saja tanpa memandang status sosial.
Harbour juga menceritakan momen saat popularitasnya meledak setelah Stranger Things tayang. Ia sedang bermain teater di New York, dan dalam satu akhir pekan jumlah penggemar yang menunggu di pintu panggung melonjak dari satu orang menjadi 50 orang. "Mereka bilang, 'Maaf, kami hanya penggemar Stranger Thingsโkami bahkan tidak nonton pertunjukannya, tapi dengar Anda di sini!'" kenang Harbour. Ia mengaku masih mencerna perubahan drastis tersebut.
Kisah Harbour menggarisbawahi pentingnya membedakan antara stres akibat kesulitan finansial dan gangguan mental klinis. Psikolog di Indonesia pun menekankan bahwa diagnosis profesional tetap diperlukan, karena penanganan kedua kondisi itu berbeda. Jika stres ekonomi bisa mereda saat situasi membaik, gangguan mental seperti depresi atau kecemasan membutuhkan terapi dan obat-obatan jangka panjang.
Ke depannya, pengakuan Harbour diharapkan bisa mendorong lebih banyak orang, termasuk di Indonesia, untuk tidak menunda mencari bantuan. Pertanyaan yang muncul: akankah kesadaran publik tentang kesehatan mental meningkat, atau stigma akan terus menghalangi langkah mereka yang membutuhkan pertolongan?



