Sirkuit Sepang Kembali ke Kalender F1 Musim Ini? Konflik Timur Tengah Buka Peluang
Baca dalam 60 detik
- Konflik di Timur Tengah membuat putaran Bahrain terancam batal, membuka peluang bagi Malaysia untuk kembali menjadi tuan rumah Grand Prix F1.
- Sirkuit Sepang masuk dalam daftar opsi pengganti, dengan jadwal potensial antara GP Azerbaijan dan Singapura pada September-Oktober.
- Keputusan final harus diambil sebelum jeda Agustus, dengan FIA dan F1 masih menunggu hasil voting terkait jadwal WEC.

Konflik berkepanjangan di Timur Tengah kembali mengancam kelangsungan seri balap Formula One di Bahrain, dan kali ini Malaysia muncul sebagai kandidat kuat pengganti. Sirkuit Sepang, yang terakhir kali menggelar Grand Prix pada 2017, disebut-sebut oleh sejumlah sumber di paddock Hungaria sebagai salah satu opsi utama untuk mengisi kekosongan kalender musim ini.
Dua putaran awal musim di Bahrain dan Arab Saudi pada April lalu terpaksa dibatalkan akibat eskalasi perang dengan Iran. Upaya untuk menjadwalkan ulang balapan di Bahrain sempat menunjukkan titik terang, namun situasi keamanan yang kembali memanas membuat rencana itu buyar. Kini, penyelenggara F1 tengah memutar otak mencari alternatif, dan Asia Tenggara kembali menjadi sorotan.
Menurut sumber yang enggan disebutkan namanya, slot yang paling memungkinkan adalah antara Grand Prix Azerbaijan di Baku pada 26 September dan Grand Prix Singapura pada 11 Oktober. Sepang dinilai ideal karena sudah memiliki infrastruktur berstandar FIA, termasuk sertifikasi kelas 1 yang masih berlaku. Selain itu, kehadiran Petronas—mitra utama tim Mercedes—sebagai perusahaan minyak negara Malaysia menjadi nilai tambah tersendiri dalam negosiasi.
Alternatif lain di kawasan Asia adalah Sirkuit Suzuka, Jepang. Namun, sumber menyebut tim-tim F1 kurang antusias untuk kembali ke sana dua kali dalam satu musim. Suzuka sudah dijadwalkan menggelar balapan pada akhir musim, dan beban logistik ganda dinilai tidak efisien. Sementara itu, dua seri terakhir musim ini—Qatar dan Abu Dhabi—masih dalam status waspada, meski belum ada keputusan pembatalan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Meski tidak menjadi tuan rumah, kedekatan geografis dengan Malaysia membuat balapan di Sepang selalu menjadi magnet bagi penggemar Tanah Air. Ribuan penonton Indonesia kerap memadati sirkuit saat GP Malaysia digelar, dan potensi kembalinya ajang ini bisa kembali menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi regional. Belum lagi, jika balapan jadi digelar, stasiun televisi nasional berpotensi menyiarkan langsung, mengingat F1 memiliki basis penggemar yang cukup besar di Indonesia.
Dari sisi regulasi, keputusan akhir ada di tangan FIA dan pemegang hak komersial F1. Dewan Olahraga Motor Dunia FIA dijadwalkan memberikan suara akhir pekan ini terkait penundaan putaran World Endurance Championship (WEC) di Bahrain dan Qatar. Jika WEC dipindahkan ke sirkuit Eropa, maka pintu bagi Malaysia untuk masuk kalender F1 semakin terbuka. Formula One dikabarkan menunggu hasil voting tersebut sebelum mengambil langkah konkret.
Selain Malaysia, Sirkuit Portimao di Portugal juga disebut-sebut sebagai opsi cadangan. Dengan iklim Algarve yang lebih hangat, Portimao dianggap mampu menggelar balapan di bulan-bulan musim dingin. Namun, sumber menilai Sepang memiliki keunggulan dari sisi dukungan korporasi dan pengalaman penyelenggaraan. Pertanyaannya, akankah F1 kembali bernapas di Asia Tenggara setelah delapan tahun absen? Atau justru Eropa yang akan menjadi solusi akhir?



