Ricki Lake Jadi Inspirasi Rosie O'Donnell Jalani Facelift: Antara Feminisme dan Keputusan Personal
Baca dalam 60 detik
- Rosie O'Donnell mengakui sahabatnya Ricki Lake menjadi pendorong utama dirinya menjalani operasi facelift setelah enam bulan bergulat dengan keraguan.
- Keputusan ini memicu perdebatan internal soal feminisme dan tekanan patriarki, namun Rosie menegaskan hak perempuan atas tubuhnya sendiri.
- Rosie memilih transparan soal prosedurnya, berbeda dari banyak selebritas yang cenderung menyembunyikan operasi plastik mereka.

Rosie O'Donnell, aktris dan pembawa acara televisi berusia 57 tahun, secara terbuka mengakui bahwa sahabatnya, Ricki Lake, menjadi inspirasi utama di balik keputusannya menjalani operasi facelift. Pengakuan ini disampaikan dalam wawancara dengan People, di mana ia mengungkapkan perjalanan emosional dan intelektual yang panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk "turun gunung" menjalani prosedur kecantikan tersebut.
Bagi Rosie, keputusan ini bukanlah hal yang mudah. Sebagai seorang feminis, ia selama ini memandang operasi plastik sebagai bentuk kepatuhan terhadap standar kecantikan yang diciptakan oleh patriarki dan "male gaze". Keraguan itu semakin diperkuat oleh sang anak bungsu, Clay, yang mempertanyakan warisan dan teladan yang ingin ditinggalkan Rosie bagi para perempuan muda yang mengaguminya. "Mommy, girls look up to you and what does your legacy stand for if you do this?" kenang Rosie tentang perkataan putranya.
Namun, setelah enam bulan bergulat dengan dilema tersebut, Rosie sampai pada kesimpulan yang membebaskan. "Kekuatan sejati feminisme adalah perempuan berhak memutuskan apa yang ingin mereka lakukan terhadap tubuh mereka dan kapan," ujarnya. Pandangan ini menjadi fondasi yang memungkinkannya melangkah maju tanpa merasa mengkhianati prinsip yang selama ini ia perjuangkan.
Dalam prosesnya, Ricki Lake berperan sebagai "pelatih" pribadi. Ricki, yang sebelumnya telah terbuka mengenai facelift-nya, memberikan dukungan dan informasi yang dibutuhkan Rosie. Rosie sendiri memilih untuk tidak merahasiakan prosedurnya, berbeda dengan banyak selebritas yang kerap mengelak saat ditanya perubahan penampilan mereka. "Saya tidak ingin menjadi salah satu dari orang-orang yang berkata, 'Oh, tidak ada apa-apa...' Sama seperti dengan Mounjaro (obat penurun berat badan). Saya tidak ingin orang yang berjuang dengan berat badan mereka merasa ada yang salah dengan diri mereka," tegas Rosie.
Fenomena keterbukaan selebritas seperti Rosie dan Ricki ini menarik untuk dicermati, terutama di Indonesia di mana operasi plastik masih kerap menjadi tabu. Di satu sisi, ada tekanan sosial yang kuat untuk tampil awet muda, terutama bagi figur publik. Di sisi lain, keputusan untuk menjalani prosedur kecantikan seringkali dihadapkan pada stigma negatif. Sikap Rosie yang memilih transparan justru dapat membuka ruang diskusi yang lebih sehat tentang pilihan personal dan otonomi tubuh, tanpa harus terjebak dalam dikotomi "feminisme vs. kecantikan".
Menurut psikolog klinis dari Universitas Indonesia, dr. Adhitya Wardhana, Sp.KJ, keputusan Rosie mencerminkan pergeseran paradigma dalam feminisme kontemporer. "Feminisme gelombang ketiga menekankan pada pilihan individu. Selama keputusan itu diambil secara sadar dan tanpa paksaan, maka itu adalah bentuk pemberdayaan, bukan kelemahan," jelasnya. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya literasi kesehatan dan ekspektasi yang realistis terhadap hasil operasi plastik.
Ke depannya, akankah semakin banyak figur publik yang berani terbuka seperti Rosie dan Ricki? Atau justru sebaliknya, tren ini hanya akan memperkuat standar kecantikan yang sempit? Yang jelas, perdebatan antara hak individual dan tekanan sosial masih akan terus berlangsung, dan setiap keputusanโbaik untuk menjalani operasi maupun tidakโlayak dihormati selama diambil dengan kesadaran penuh.



