Tarot untuk Anabul: Tren Ramal Pikiran Hewan Peliharaan di Korea Selatan
Baca dalam 60 detik
- Semakin banyak pemilik hewan di Korea Selatan yang menggunakan kartu tarot untuk memahami kondisi psikologis hewan peliharaan mereka, didorong oleh tren kepemilikan hewan yang menggantikan peran anak.
- Praktik ini, yang ditawarkan di tempat peramalan kelas atas di Gangnam, mengklaim dapat mengungkap kecemasan atau trauma yang tidak terdeteksi oleh dokter hewan atau pelatih anjing.
- Fenomena ini mencerminkan perubahan sosial di Korea Selatan, di mana tingkat kelahiran terendah di dunia mendorong manusia untuk menjadikan hewan sebagai anggota keluarga inti.

Di sebuah rumah peramalan di distrik Gangnam, Seoul, seekor anjing greyhound bernama Khan mengendus setumpuk kartu tarot sebelum meletakkan kakinya di atas salah satu kartu. Di seberang meja, pemiliknya, Ahn Hye-joo, menanti dengan cemas makna di balik gambar anjing yang mengejar tuannya tersebut. Bagi Ahn, sesi ini bukan sekadar hiburan: ia ingin tahu apa yang dirasakan Khan, anjing jantan yang baru menjadi ayah dari lima anak anjing.
Hwang Soo-kyung, peramal yang menjalankan Ace Sophia di kawasan elite Gangnam, menafsirkan kartu tersebut sebagai tanda kecemasan terkait peran baru Khan sebagai induk. “Perasaan yang dialami Khan ini tidak diketahui oleh dokter hewan atau pelatih anjing, karena tidak tampak sebagai masalah besar bagi mereka,” ujar Ahn. Fenomena “tarot hewan peliharaan” ini kian diminati di Korea Selatan, seiring dengan meningkatnya jumlah rumah tangga yang memelihara hewan.
Menurut survei pemerintah, 29,2% rumah tangga di Korea Selatan kini memelihara hewan, naik dari 17,4% pada 2010. Angka ini berbanding terbalik dengan tingkat kelahiran yang terus merosot—terendah di dunia—akibat biaya perumahan dan pendidikan yang mahal. Banyak pasangan muda memilih untuk tidak memiliki anak, dan sebagai gantinya, mereka mengalihkan kasih sayang serta perhatian kepada hewan peliharaan, yang sering dianggap sebagai anggota keluarga atau bahkan satu-satunya teman serumah.
Hwang, yang membuka tokonya pada 2014, mengatakan permintaan untuk layanan tarot hewan terus bertambah. Ia bahkan merancang set kartu khusus untuk hewan, termasuk kura-kura dan reptil, setelah banyak pelanggan bertanya apakah ia bisa membaca pikiran hewan mereka. “Tidak ada klien yang pernah puas hanya dengan satu sesi,” katanya. “Begitu Anda mulai bertanya apa yang dipikirkan anjing Anda, Anda tidak bisa berhenti.” Biaya setiap sesi sekitar 20.000 won (sekitar Rp230.000).
Bagi sebagian pemilik, tarot hewan lebih dari sekadar hiburan. Ryu Su-mi membawa anjing penyelamatnya, E-seul, yang selalu ketakutan setiap kali melihat orang berpakaian seperti paramedis. Ketakutan itu muncul sejak Ryu pingsan di rumah dan dilarikan ke rumah sakit. Melalui kartu tarot, Hwang mengatakan trauma itu masih ada, namun mulai pulih. “Kartu yang dipilih E-seul menunjukkan bahwa lukanya masih ada, tetapi sedang dalam proses penyembuhan,” jelas Hwang.
Fenomena ini mengundang pertanyaan tentang batas antara sains dan kepercayaan alternatif. Di satu sisi, para ahli perilaku hewan mungkin meragukan validitas metode ini. Namun, di sisi lain, tarot hewan menawarkan saluran emosional bagi pemilik yang merasa tidak dipahami oleh pendekatan konvensional. “Ini seperti jembatan antara manusia dan hewan,” kata Hwang. “Kami tidak menggantikan dokter hewan, tetapi membantu pemilik memahami perasaan hewan mereka yang mungkin terlewatkan.”
Di Indonesia, tren serupa mungkin belum sepopuler di Korea Selatan, tetapi kesadaran akan kesejahteraan mental hewan peliharaan mulai tumbuh. Komunitas pecinta hewan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung kerap mengadakan sesi konsultasi perilaku hewan, meski belum ada yang menggunakan tarot. Namun, dengan meningkatnya jumlah pemilik hewan di Indonesia—terutama kucing dan anjing—bukan tidak mungkin praktik serupa akan muncul sebagai bentuk terapi alternatif. Pertanyaannya, sejauh mana masyarakat Indonesia akan menerima metode non-ilmiah untuk memahami hewan kesayangan mereka?



