Olivia Wilde Menyesali Komentarnya soal Jordan Peterson: Tuduhan Pseudo-Intelektual Dianggap Berlebihan
Baca dalam 60 detik
- Aktris Olivia Wilde mengakui bahwa julukan 'pseudo-intelektual' untuk psikolog Jordan Peterson mungkin tidak adil, setelah Peterson menangis menanggapi komentarnya.
- Wilde tetap khawatir tentang pengaruh Peterson, yang menurutnya dapat mengarah pada tokoh seperti Andrew Tate dan memperkuat misogini di kalangan tertentu.
- Peterson membela diri dengan mengatakan bahwa pria muda yang teralienasi sering disalahpahami, bukan layak dicap sebagai 'incel'.

Olivia Wilde, aktris sekaligus sutradara film Don’t Worry Darling, mengakui bahwa dirinya mungkin terlalu keras saat menyebut psikolog dan penulis Jordan Peterson sebagai 'pahlawan pseudo-intelektual bagi komunitas incel'. Dalam wawancara terbaru di The Louis Theroux Podcast, Wilde menyatakan penyesalannya atas pernyataan kontroversial yang dilontarkannya pada 2022 itu.
“Mungkin tidak adil bagi saya untuk menyebutnya pseudo-intelektual,” ujar Wilde, 42 tahun. Ia mengakui bahwa Peterson “jelas memikirkan sesuatu secara mendalam”. Namun, Wilde masih menyimpan kekhawatiran tentang dampak pemikiran Peterson. Menurutnya, cara Peterson beroperasi adalah “versi yang lebih rapi dari pemikir yang pada akhirnya melahirkan Andrew Tate”.
Komentar Wilde pada 2022 memicu reaksi emosional dari Peterson. Dalam wawancara dengan Piers Morgan, Peterson menangis saat menanggapi tuduhan tersebut. Ia membela diri dengan mengatakan bahwa banyak pria muda yang teralienasi justru menjadi korban stigma, bukan pelaku misogini. “Mereka kesepian dan tidak tahu harus berbuat apa, tapi semua orang justru menumpuk hinaan pada mereka,” kata Peterson.
Wilde menegaskan bahwa masalah utamanya dengan Peterson bukanlah pada individu, melainkan pada bagaimana filosofinya diadopsi oleh kelompok yang tidak sepenuhnya misoginis. “Banyak orang yang tidak misoginis justru mengadopsi versi yang disanitasi dari filosofi yang sama, yang sebenarnya berakar pada misogini dan dipersenjatai oleh komunitas incel,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa inti dari pemikiran tersebut adalah “rasa berhak atas kekuasaan”, yang menurutnya berbahaya.
Di Indonesia, perdebatan tentang pengaruh tokoh seperti Peterson dan Tate juga mulai terasa. Banyak konten kreator lokal yang mengadopsi gaya bicara Peterson tentang maskulinitas, namun kerap berujung pada pandangan yang merendahkan perempuan. Fenomena ini memicu diskusi di kalangan akademisi dan aktivis gender tentang perlunya literasi kritis terhadap konten-konten semacam itu.
Peterson, di sisi lain, tetap pada pendiriannya bahwa pria muda yang terpinggirkan membutuhkan empati, bukan cemoohan. “Mereka tidak tahu cara membuat diri mereka menarik bagi wanita yang sangat pemilih, dan itu wajar. Wanita berhak menuntut standar tinggi. Tapi jangan tumpuk hinaan pada mereka yang sudah kesepian,” ujarnya.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah pengakuan Wilde ini meredakan ketegangan antara dua kubu yang saling berseteru, atau justru membuka ruang dialog baru tentang maskulinitas dan misogini di era digital?



