Danielle Fishel: Mengasuh Anak Juga Berarti Mengasuh Diri Sendiri
Baca dalam 60 detik
- Aktris Danielle Fishel mengaku bahwa menjadi orang tua memaksanya untuk terus-menerus melakukan 'self-parenting' atau mengasuh diri sendiri.
- Ia menekankan pentingnya mengubah situasi sulit menjadi permainan untuk mengelola emosi anak dan dirinya sendiri.
- Setelah bebas dari kanker payudara, Fishel kini memandang perawatan diri sebagai kebutuhan dasar, bukan kemewahan.

Menjadi orang tua bukan hanya soal mengasuh anak, tetapi juga mengasuh diri sendiri. Itulah pelajaran berharga yang diungkapkan Danielle Fishel, aktris yang dikenal lewat serial Boy Meets World, dalam wawancara terbarunya. Ibu dua anak ini mengakui bahwa aspek pengasuhan yang paling tidak terduga adalah seberapa sering ia harus mengatur emosinya sendiri sebelum mampu menangani anak-anaknya.
Fishel, yang kini berusia 45 tahun, memiliki dua putra, Adler (7) dan Keaton (4), dari pernikahannya dengan Jensen Karp. Dalam podcast Cart Blanche, ia menjelaskan bahwa pemicu emosional dari anak-anak sering kali bukanlah tentang apa yang mereka katakan, melainkan cerminan dari perasaan lamanya sendiri. "Saya harus bicara pada diri sendiri, menenangkan diri, sebelum saya bisa menghadapi mereka dengan tepat," ujarnya. Proses ini, menurut Fishel, adalah 'self-parenting' yang harus ia lakukan setiap hari.
Selain pengendalian diri, Fishel juga membagikan trik praktis yang ia gunakan: mengubah situasi negatif menjadi permainan. "Ketika Anda dihadapkan pada pilihan untuk marah atau mengubahnya menjadi permainan, pilihlah permainan," katanya. Contoh sederhana seperti kehilangan setengah piyama bisa disulap menjadi "malam piyama gila". Strategi ini tidak hanya mengalihkan perhatian anak, tetapi juga membantu orang tua tetap tenang dan kreatif.
Pengalaman Fishel dengan kanker juga mengubah perspektifnya secara drastis. Dalam wawancara dengan People, ia mengaku bahwa sebelumnya ia menganggap perawatan diri sebagai kemewahan atau sekadar indulgensi. Kini, ia melihatnya sebagai kewajiban minimal terhadap dirinya sendiri. "Saya harus tetap aktif agar bisa melakukan hal-hal yang memberi saya kegembiraan, seperti menari," ungkapnya. Pesan ini relevan bagi banyak orang tua yang sering mengabaikan kebutuhan diri sendiri demi anak-anak.
Di Indonesia, fenomena 'self-parenting' ini mungkin masih asing di telinga banyak orang tua. Namun, tekanan pengasuhan di era modern—ditambah dengan tuntutan pekerjaan dan media sosial—semakin membuat orang tua rentan terhadap kelelahan emosional. Para psikolog di Tanah Air pun mulai menyoroti pentingnya regulasi emosi orang tua sebagai fondasi pengasuhan yang sehat. Kisah Fishel bisa menjadi pengingat bahwa merawat diri sendiri bukanlah egois, melainkan bagian integral dari menjadi orang tua yang baik.
Ke depan, tantangan bagi orang tua adalah bagaimana menyeimbangkan antara mengasuh anak dan mengasuh diri sendiri. Akankah semakin banyak figur publik yang berbagi pengalaman serupa untuk mendorong perubahan pola pikir? Atau justru tekanan sosial akan terus membuat orang tua merasa bersalah saat meluangkan waktu untuk diri sendiri? Yang jelas, perjalanan Fishel menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan mental orang tua adalah langkah awal menuju keluarga yang lebih harmonis.



