Maldini Bantah Isu Gaji Rp350 Miliar untuk Guardiola: Uang Bukan Prioritas
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini menepis kabar bahwa Pep Guardiola meminta gaji €20 juta untuk menangani Timnas Italia.
- Guardiola masih mempertimbangkan tawaran tersebut setelah 10 tahun di Manchester City, dengan fokus pada kesiapan proyek.
- Keputusan Guardiola akan berdampak pada peta persaingan sepak bola Eropa dan bisa menjadi contoh bagi federasi lain, termasuk Indonesia.

Paolo Maldini, Direktur Teknis Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), dengan tegas membantah rumor yang menyebut Pep Guardiola meminta gaji sebesar €20 juta (sekitar Rp350 miliar) untuk menjadi pelatih Timnas Italia. Dalam konferensi pers di Roma, legenda AC Milan itu menyatakan bahwa faktor ekonomi sama sekali bukan pertimbangan utama bagi pelatih asal Spanyol tersebut.
“Aspek ekonomi sama sekali tidak relevan bagi Pep,” ujar Maldini, yang ditemani penasihat khusus Leonardo dan Presiden FIGC Giovanni Malagò. Pertemuan dengan Lega Serie A, konsorsium 20 klub papan atas Italia, menjadi latar belakang pernyataan ini. Maldini menegaskan bahwa spekulasi soal nominal gaji hanyalah isu yang mengaburkan substansi negosiasi.
Guardiola, yang baru saja menyelesaikan satu dekade bersama Manchester City, dikabarkan tengah menikmati waktu istirahat bersama keluarga. Namun, ketertarikannya menangani Italia—yang tiga kali berturut-turut gagal lolos ke Piala Dunia—cukup besar. Menurut laporan Sky Sport Italia, hambatan negosiasi bukanlah soal uang, melainkan keinginan Guardiola untuk benar-benar yakin sebelum menerima proyek besar tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bagaimana federasi sepak bola bernegosiasi dengan pelatih bintang. PSSI, yang tengah mencari pelatih baru untuk Timnas, bisa belajar dari pendekatan FIGC yang mengedepankan visi jangka panjang ketimbang sekadar gaji. “Keputusan Guardiola akan menjadi tolok ukur bagaimana federasi membangun proyek sepak bola,” ujar pengamat sepak bola nasional, Andi Widjaya.
Jika Guardiola akhirnya menerima, ia akan menjadi pelatih asing pertama yang menangani Italia sejak 1970-an. Langkah ini bisa mengubah peta persaingan di Eropa, terutama dalam menghadapi Piala Dunia 2026. Namun, jika ia menolak, FIGC harus segera mencari alternatif. Pertanyaan besarnya: apakah Guardiola siap meninggalkan zona nyaman klub untuk tantangan membangun kembali kejayaan Italia?



