Tim Pekan Ini Versi Troy Deeney: Dominasi Arsenal dan Liverpool, Isak Kembali Dikritik
Baca dalam 60 detik
- Arsenal dan Liverpool mendominasi pilihan Troy Deeney untuk Premier League team of the week, dengan masing-masing empat dan tiga wakil.
- Deeney menyoroti performa konsisten David Raya sebagai kiper terbaik liga, serta peran krusial Ezri Konsa di lini belakang Arsenal.
- Kritik terhadap Alexander Isak dinilai berlebihan oleh Deeney, yang mengingatkan bahwa pemain Swedia itu sempat cedera parah musim lalu.

Mantan kapten Watford yang kini menjadi pengamat sepak bola, Troy Deeney, kembali merilis pilihan tim terbaik pekan ini untuk Premier League. Dalam daftar yang diumumkan BBC Sport, Arsenal dan Liverpool mendominasi dengan masing-masing empat dan tiga pemain, sementara Crystal Palace, Newcastle United, Fulham, Brentford, dan Everton turut menyumbang nama. Yang menarik, Deeney tak ragu menyebut David Raya sebagai kiper terbaik liga saat ini, sekaligus melontarkan kritik pedas terhadap penilaian publik yang kerap meragukan kualitas Alexander Isak.
Keputusan Deeney memasukkan empat pemain Arsenal—David Raya, Ezri Konsa, Martin Odegaard, dan Kai Havertz—menegaskan dominasi tim asuhan Mikel Arteta di puncak klasemen. Ia menilai Raya kembali menjadi pembeda dengan serangkaian penyelamatan krusial, sementara Konsa dianggap telah mengunci posisi bek kanan utama meski kompetisi internal ketat. "Saya bisa melihat posisi yang kini tak bisa mereka tinggalkan," ujar Deeney, merujuk pada fleksibilitas Konsa yang mampu tampil solid di berbagai lini pertahanan.
Dari kubu Liverpool, Ronald Araujo, Cody Gakpo, dan Alexander Isak masuk dalam daftar. Deeney mengakui sempat meragukan kemampuan bertahan Araujo saat masih di Barcelona, namun penampilannya sebagai bek kanan bersama Liverpool membuatnya berubah pikiran. Sementara Gakpo dinilai luar biasa karena mampu tampil konsisten di tengah gencarnya rumor transfer yang menghubungkannya dengan klub-klub besar lain. "Bayangkan harus tetap fokus di Liverpool setelah dikaitkan dengan Spurs dan Man City," katanya.
Namun sorotan utama justru tertuju pada Alexander Isak. Deeney dengan tegas membela penyerang Swedia itu yang kembali menjadi sasaran kritik setelah gagal mencetak gol saat Liverpool ditahan Newcastle. "Mereka bilang dia tidak bagus musim lalu, padahal dia mengalami dua cedera, satu di antaranya patah tulang. Musim ini, sekali tidak mencetak gol, langsung dibilang gagal," ujarnya. Deeney mengingatkan bahwa Isak sempat diunggulkan sebagai calon peraih Sepatu Emas, dan kritik semacam itu dianggapnya tidak proporsional.
Deeney juga memberi penghargaan kepada pemain-pemain yang kerap luput dari sorotan. Tyrick Mitchell dari Crystal Palace tampil menonjol dengan dua gol dari sisi kiri pertahanan, sementara Harvey Barnes dari Newcastle dinilai lebih layak diberitakan ketimbang rekan setimnya yang lebih populer. "Barnes luar biasa, tapi jarang dibicarakan. Semua orang sibuk memuji Anthony Elanga, padahal Barnes tampil fantastis," ujarnya. Ia juga menyertakan duet gelandang pekerja keras, Cesar Palacios (Fulham) dan Vitaly Janelt (Brentford), yang dianggapnya vital meski jarang mencuri perhatian.
Di kursi manajer, Deeney memilih David Moyes dari Everton. Meski bursa transfer berjalan buruk dan kehilangan beberapa opsi menyerang, Moyes tetap mampu membawa timnya meraih hasil positif. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kemampuan Moyes dalam meramu strategi di tengah keterbatasan skuad.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, daftar ini bisa menjadi bahan perbandingan dengan performa pemain-pemain yang kerap menghiasi layar kaca, seperti Martin Odegaard yang sempat diisukan hengkang dari Arsenal. Kritik terhadap Isak juga mengingatkan pada fenomena serupa di Liga Indonesia, di mana pemain asing sering kali menjadi sasaran empuk kekecewaan suporter ketika performanya menurun, tanpa mempertimbangkan faktor cedera atau adaptasi. Deeney sendiri menilai Odegaard sebagai kapten dan pemimpin sejati, serta menyebut Kai Havertz sebagai striker terbaik Arsenal saat ini—mengesampingkan rumor kedatangan Viktor Gyokeres.
Ke depan, yang menarik untuk disimak adalah apakah kritik terhadap Isak akan mereda seiring konsistensinya mencetak gol, atau justru semakin memuncak saat Liverpool menghadapi tekanan di sisa musim. Begitu pula dengan Arsenal yang mulai menemukan bentuk permainan terbaiknya—akankah dominasi mereka di tim pekan ini berlanjut menjadi gelar juara? Satu hal yang pasti, pilihan Deeney selalu memicu perdebatan, dan itulah yang membuat Premier League semakin hidup.



