Thiago Motta Kandidat Terkuat Gantikan Grosso di Fiorentina: Darurat Tiga Kekalahan Beruntun
Baca dalam 60 detik
- Fiorentina memecat Fabio Grosso setelah tiga kekalahan beruntun di Serie A, dengan catatan satu gol dan sembilan kebobolan.
- Thiago Motta, yang menganggur sejak dipecat Juventus, dilaporkan hampir pasti menerima tawaran melatih La Viola.
- Keputusan ini menjadi ujian bagi manajemen Fiorentina untuk segera mengangkat performa tim yang terpuruk di awal musim.

Krisis awal musim memaksa manajemen Fiorentina bergerak cepat. Hanya berselang tiga pekan kompetisi Serie A, kursi pelatih di Stadio Artemio Franchi kembali kosong setelah Fabio Grosso resmi diberhentikan. Nama Thiago Motta pun mencuat sebagai pengganti paling masuk akal, dengan negosiasi dikabarkan sudah memasuki tahap akhir.
Keputusan memecat Grosso memang tak terhindarkan. La Viola menelan tiga kekalahan beruntun dengan agregat memalukan: baru mencetak satu gol dan kemasukan sembilan. Kekalahan 1-2 dari Torino di kandang sendiri pada akhir pekan menjadi pemicu terakhir. Padahal, Grosso baru ditunjuk pada musim panas setelah menggantikan Raffaele Palladino yang hengkang. Namun, hasil buruk di awal musim membuat manajemen tak punya pilihan lain.
Nama-nama seperti Paolo Vanoli dan Palladino sempat dikaitkan untuk kembali. Vanoli, yang musim lalu menjadi penyelamat Fiorentina dari degradasi setelah menggantikan Stefano Pioli, dianggap sebagai opsi darurat. Namun, laporan dari Passione Fiorentina dan Sportitalia menyebut Motta justru menjadi prioritas utama. Pelatih asal Brasil-Italia itu dikabarkan tinggal menunggu kesepakatan final untuk menandatangani kontrak.
Bagi Motta, tawaran ini menjadi peluang membangun kembali reputasi setelah pengalaman pahit di Juventus. Ia dipecat pada Maret 2025 setelah hanya menangani 42 pertandingan, dengan kekalahan 0-3 dari Fiorentina menjadi ironi tersendiri. Sebelum itu, kariernya sempat bersinar di Bologna dengan membawa tim finis kelima dan lolos ke kompetisi Eropa. Pengalaman singkat di Spezia dan Genoa juga menambah portofolionya sebagai pelatih yang paham sepak bola Italia.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika pergantian pelatih di klub-klub Eropa seperti Fiorentina kerap menjadi perhatian, terutama karena banyak pemain dan pelatih asal Indonesia atau keturunan yang bermain di liga tersebut. Meski tidak ada kaitan langsung, kebijakan manajemen klub Italia dalam merespons tekanan hasil kerap menjadi pelajaran tentang pentingnya konsistensi dan strategi jangka panjang. Di Indonesia, klub-klub Liga 1 juga kerap menghadapi situasi serupa, di mana pergantian pelatih menjadi solusi instan ketika performa tim menurun.
Langkah Fiorentina merekrut Motta tentu bukan tanpa risiko. Gaya bermainnya yang menuntut pressing tinggi dan penguasaan bola membutuhkan waktu untuk diterapkan. Sementara itu, jadwal padat Serie A tidak memberi ruang banyak untuk beradaptasi. Pertanyaan besarnya, akankah manajemen memberi kepercayaan penuh atau kembali bersabar seperti saat menangani Grosso? Keputusan ini juga akan menjadi ujian bagi Motta untuk membuktikan bahwa kegagalannya di Juventus hanyalah sebuah anomali, bukan tren.
Jika negosiasi rampung, Motta akan langsung dihadapkan pada tugas berat mengangkat mental pemain yang tengah terpuruk. Dukungan suporter di Artemio Franchi pun menjadi faktor penentu. Publik Italia, termasuk diaspora Indonesia yang mengikuti Serie A, tentu menanti apakah mantan gelandang timnas Italia ini mampu membawa Fiorentina bangkit dari keterpurukan. Satu hal yang pasti: tekanan di Florence tidak akan berkurang, dan setiap hasil buruk akan kembali menjadi sorotan.



