Zak Williams Kenang ‘Keeksentrikan’ Sang Ayah di Ulang Tahun ke-75 Robin Williams
Baca dalam 60 detik
- Zak Williams mengajak publik berbuat kebaikan sebagai bentuk peringatan ulang tahun ke-75 sang ayah, Robin Williams.
- Zelda Williams, adik Zak, sebelumnya mengecam keras video AI yang meniru mendiang ayahnya dan meminta publik berhenti mengirimkannya.
- Keluarga Williams menolak penggunaan AI untuk mereplikasi sosok Robin, menilai hal itu tidak menghormati warisan sang aktor.

Zak Williams, putra sulung almarhum Robin Williams, memperingati ulang tahun ke-75 sang ayah dengan cara yang tak biasa. Alih-alih sekadar mengenang, ia mengajak publik untuk menyebarkan kebaikan—sebuah penghormatan yang menurutnya paling sesuai dengan semangat sang komedian legendaris.
Dalam unggahan di media sosial, Zak menuliskan pesan penuh haru. Ia mengingat “keanehan” dan “kapasitas luar biasa untuk mencintai” yang dimiliki ayahnya. “Saya ingat kerutan di sudut matamu, yang muncul karena seumur hidup tersenyum,” tulisnya. Ia juga menyerukan agar siapa pun yang ingin ikut merayakan, melakukan hal baik untuk orang lain, membuat seseorang tertawa, dan menebar kebaikan di dunia.
Robin Williams ditemukan meninggal dunia di kediamannya di California pada Agustus 2014. Penyebab kematiannya adalah bunuh diri, setelah bertahun-tahun berjuang melawan depresi dan penyakit Parkinson. Warisannya sebagai aktor komedi dan drama tetap hidup, namun di era digital, warisan itu justru menjadi sengketa baru.
Zelda Williams, adik Zak, sebelumnya melontarkan kritik pedas terhadap maraknya video buatan AI yang meniru penampilan dan suara sang ayah. Lewat Instagram Story, ia meminta publik berhenti mengirimkan konten semacam itu. “Berhentilah percaya bahwa saya ingin melihatnya atau saya akan mengerti—saya tidak mau dan tidak akan,” tegasnya. Ia menyebut video-video tersebut sebagai “sampah TikTok yang mengerikan” dan “sosis olahan berlebihan” yang dibuat dari kehidupan manusia.
Zelda, yang kini menjadi sutradara film Lisa Frankenstein, menolak keras anggapan bahwa AI adalah masa depan. Menurutnya, AI hanyalah daur ulang buruk dari masa lalu yang dikonsumsi kembali. “Kau mengambil konten Human Centipede, dari ujung paling buntut, sementara orang-orang di depan tertawa dan terus mengonsumsi,” sindirnya.
Fenomena serupa mulai terlihat di Indonesia. Beberapa kanal YouTube dan TikTok menampilkan video AI yang meniru suara artis atau tokoh publik tanpa izin. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan keluarga dan penggemar, terutama terkait hak cipta dan etika. Belum ada regulasi spesifik di Indonesia yang mengatur penggunaan AI untuk mereplikasi figur publik yang telah meninggal, meskipun Undang-Undang Hak Cipta dan Undang-Undang ITE dapat menjadi dasar hukum.
Pakar etika digital dari Universitas Indonesia, Dr. Rudi Hartono, menilai bahwa penggunaan AI untuk meniru orang yang sudah meninggal harus diatur secara ketat. “Ini bukan hanya soal hak cipta, tapi juga penghormatan terhadap martabat manusia. Keluarga berhak menentukan bagaimana warisan orang yang dicintai digunakan,” ujarnya.
Di tengah polemik AI, seruan Zak Williams untuk berbuat baik menjadi pengingat akan esensi kemanusiaan yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. Pertanyaannya, akankah industri hiburan dan regulator mampu menyeimbangkan inovasi dengan etika, atau justru membiarkan warisan para seniman dikomodifikasi tanpa kendali?



