Ted Lasso Menyelamatkan Jason Sudeikis: Peran yang Mengubah Hidup
Baca dalam 60 detik
- Jason Sudeikis mengaku karakter Ted Lasso membawa dampak positif dalam hidupnya, membuatnya merasa 'terselamatkan'.
- Musim keempat serial ini akan fokus pada tim wanita Richmond, dengan sejumlah pemain lama tidak kembali.
- Sudeikis secara pribadi memberi tahu aktor yang tidak dilibatkan lagi, menunjukkan sisi humanis di balik layar.

Bagi Jason Sudeikis, memerankan Ted Lasso bukan sekadar pekerjaan. Aktor berusia 50 tahun itu mengakui bahwa karakter optimis nan penuh kebaikan yang ia mainkan dalam serial Apple TV+ telah membawa perubahan besar dalam hidupnya—bahkan ia merasa 'terselamatkan' oleh peran tersebut.
Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Sudeikis menceritakan bagaimana responsnya terhadap penggemar yang mengatakan serial itu menyelamatkan mereka. Ia pun mengaku merasakan hal serupa. “Memerankan karakter yang selalu melihat sisi terbaik orang lain, yang tidak marah pada kelemahan dan kegelapan dunia, itu menular,” ujarnya. “Bukan berarti saya Daniel Day-Lewis, tapi sangat baik untuk hidup dalam karakter itu—membiarkan energi positif mengalir di otak dan tubuh sepanjang hari. Sampai sekarang pun masih terasa.”
Ted Lasso awalnya direncanakan sebagai cerita tiga musim. Namun, bulan depan serial ini akan kembali dengan musim keempat, kali ini berfokus pada tim wanita Richmond. Keputusan untuk melanjutkan cerita tidak mudah bagi Sudeikis, yang juga ikut menulis dan menciptakan serial tersebut. Meski ditawari bayaran 1 juta dolar AS per episode, ia sempat ragu karena merasa cerita telah berakhir dengan tepat. “Itu bukan taktik negosiasi. Ceritanya sudah selesai. Ted pulang untuk bersama putranya. Saya tidak akan membuat Ted mencabut kehidupan mereka demi tumpukan uang. Itu tidak masuk akal bagi saya,” tegasnya.
Keputusan untuk tidak melibatkan kembali sejumlah pemain lama menjadi momen berat. Sudeikis secara pribadi menelepon para aktor yang tidak akan kembali. “Karena saya tidak ingin mereka mendengarnya dari internet, dan karena saya sayang mereka—kami semua telah melalui sesuatu bersama,” jelasnya. Tindakan ini menunjukkan sisi humanis Sudeikis yang jarang terlihat di industri hiburan.
Brendan Hunt, yang memerankan Coach Beard sekaligus rekan penulis, melihat banyak kesamaan antara Sudeikis dan karakter Ted Lasso. Menurutnya, Ted adalah representasi dari sebagian diri Jason: “Seorang yokel Midwest yang berniat baik, benar-benar peduli pada orang lain, dan punya kemampuan melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain.”
Bagi penonton di Indonesia, kisah Sudeikis ini mengingatkan bahwa karakter fiksi bisa menjadi cermin dan terapi bagi aktornya. Di tengah industri perfilman Tanah Air yang kerap menuntut aktor mendalami peran gelap, Ted Lasso menawarkan alternatif: bahwa memerankan kebaikan juga bisa menyembuhkan. Pertanyaannya, akankah musim keempat ini mampu mempertahankan kehangatan yang membuat serial ini begitu dicintai? Atau justru pergeseran fokus ke tim wanita akan membawa warna baru yang tak kalah menarik?



