Tragedi KM Nurul Salsa: Yatim Piatu di Usia 7 Tahun, Negara Jamin Pendidikan Diska hingga Kuliah
Baca dalam 60 detik
- Diska (7) kehilangan kedua orang tua dalam tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan Selayar, Sulawesi Selatan.
- Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar berkomitmen menanggung seluruh biaya pendidikan Diska hingga perguruan tinggi.
- Lima dari puluhan penumpang selamat setelah bertahan di atas pelampung gabus selama empat hari di Laut Flores.

Seorang bocah perempuan berusia tujuh tahun, Diska, harus merelakan ayah dan ibunya yang menjadi korban tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, pada Rabu (15/7) lalu. Kini, pemerintah daerah setempat memastikan akan menjamin biaya pendidikannya hingga jenjang perguruan tinggi.
Diska merupakan anak dari pasangan Hasbi (41) dan Malida (31), warga Desa Ma'minasata, Kecamatan Pasimasunggu. Kedua orang tuanya dinyatakan hilang setelah kapal yang mereka tumpangi menuju Pelabuhan Benteng tenggelam dihantam gelombang tinggi. Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih melakukan pencarian terhadap korban yang belum ditemukan.
Bau Asseng (23), tante Diska yang juga ikut dalam musibah tersebut, menuturkan bahwa ia sempat bertahan bersama orang tua Diska di atas pelampung gabus. Namun, kondisi laut yang ekstrem memisahkan mereka. "Ibunya sempat bertahan selama tiga malam hingga akhirnya meninggal di atas gabus karena dehidrasi dan kelelahan," ungkap Bau Asseng di Selayar, Rabu (22/7). Jenazah Malida terpaksa dilepaskan ke laut karena para penyintas tidak mampu lagi membawanya.
Sementara itu, Hasbi, ayah Diska, sempat berpesan kepada Bau Asseng untuk menjaga sang putri sebelum akhirnya terpisah dan tidak pernah terlihat lagi. "Diska sempat bersama bapak dan mamanya. Tapi, begitulah kalau ajal," ujar Bau Asseng lirih.
Kelima penyintas akhirnya ditemukan dan dievakuasi oleh kapal nelayan yang melintas di Laut Flores pada Sabtu (19/7). Mereka selamat setelah berpegang pada pelampung gabus selama berhari-hari tanpa makanan dan air yang cukup. Kisah Diska menjadi sorotan publik, mengingat usianya yang masih sangat belia harus kehilangan kedua orang tua dalam satu peristiwa tragis.
Bupati Kepulauan Selayar, Natsir Ali, menyatakan bahwa pemerintah daerah akan bertanggung jawab penuh terhadap masa depan Diska. "Adapun anak kecil itu, kami ketahui kehilangan orang tuanya dan insyaallah akan menjadi tanggung jawab pemda," kata Natsir. Ia menambahkan bahwa pihaknya akan menjamin biaya pendidikan Diska hingga ke perguruan tinggi, serta terus berkoordinasi dengan semua pihak untuk mempercepat proses pencarian korban yang masih hilang.
Peristiwa ini kembali mengingatkan akan pentingnya keselamatan pelayaran di wilayah kepulauan, di mana transportasi laut masih menjadi tulang punggung mobilitas warga. Pemerintah daerah berjanji akan mengevaluasi prosedur keselamatan kapal-kapal tradisional untuk mencegah tragedi serupa. Sementara itu, doa dan dukungan terus mengalir bagi Diska dan keluarga korban lainnya.
Ke depan, pertanyaan besar masih menggantung: akankah jaminan pendidikan yang diberikan benar-benar dapat mengembalikan masa kecil Diska yang hilang? Ataukah ini hanya menjadi janji di atas kertas yang tak kunjung terealisasi?



