Kontrak UFC Berakhir, Michael Page Menang Tapi Dihujat Penggemar di Paris
Baca dalam 60 detik
- Michael 'Venom' Page menutup kontrak UFC-nya dengan kemenangan angka mutlak atas Nursulton Ruziboev, namun aksi yang kurang agresif memicu sorak-sorai negatif dari penonton di Paris.
- Sepanjang kariernya di UFC sejak 2024, Page belum pernah memenangkan laga dengan knockout; semua lima kemenangannya harus melalui keputusan juri.
- Dengan status bebas transfer, Page berpeluang pindah ke PFL atau tinju, sementara UFC 322 akan mempertemukan Natalia Silva dan Wang Cong untuk merebut sabuk juara kelas terbang putri yang ditinggalkan Valentina Shevchenko.

Michael 'Venom' Page mengakhiri kontraknya dengan UFC melalui kemenangan angka mutlak atas Nursulton Ruziboev, namun sorak-sorai penggemar di Paris justru mengiringi pengangkatan tangannya. Petarung asal London yang akrab disapa MVP itu gagal memberikan knockout yang dinanti-nantikan publik, sehingga laga pamungkasnya terasa hambar meski berakhir dengan kemenangan.
Pertarungan yang berlangsung di Accor Arena itu memperlihatkan Page lebih banyak bergerak dan menghindar ketimbang melancarkan serangan mematikan. Sepanjang tiga ronde, ia hanya melepaskan 12 pukulan berarti, sedikit di atas catatan lawannya yang mencatatkan delapan. Momen paling menarik terjadi di ronde kedua ketika tendangan ke lutut Ruziboev membuat petarung asal Uzbekistan itu goyah, tetapi Page memilih berselebrasi dan melakukan gerakan tipu ketimbang menuntaskan peluang.
Kemenangan ini menegaskan pola yang sudah terlihat sejak Page bergabung dengan UFC pada 2024: dari enam laga, lima kemenangannya selalu lewat keputusan juri. Padahal, sebelum direkrut, Page dikenal sebagai striker inovatif dengan sederet knockout spektakulerโ13 di antaranya sudah ia kumpulkan sebelum memasuki oktagon UFC. Namun, pengakuannya sebelum laga bahwa ia tampil di bawah standar sejak pindah organisasi kembali terbukti di atas ring.
Bagi penggemar MMA di Indonesia, kasus Page menjadi pelajaran menarik tentang transisi gaya bertarung dari sirkuit regional ke panggung global. UFC menuntut lebih dari sekadar keindahan gerakan; penyelesaian akhir menjadi pembeda antara petarung biasa dan calon juara. Page, yang kini berstatus bebas transfer, menghadapi persimpangan karier: bertahan di UFC dengan kontrak baru, pindah ke PFL yang dikenal agresif merekrut bintang, atau mencoba peruntungan di ring tinju.
Keputusan Page nantinya akan diawasi ketat, mengingat usianya yang sudah 39 tahun. Jika ia memilih bertahan di UFC, manajemen pasti menuntut perubahan pendekatan agar tidak kembali menuai cemoohan. Sebaliknya, jika hengkang, ia bisa menjadi aset berharga bagi kompetitor UFC yang sedang berekspansi, termasuk kemungkinan menarik minat penggemar Asia Tenggara.
Di sisi lain, kemenangan Page tidak sendirian menghiasi malam itu. Petarung Inggris lainnya, Kurtis Campbell, sukses membungkam Trevor Peek asal Amerika melalui kuncian rear-naked choke di ronde ketiga. Kemenangan ini menjadi penebusan bagi Campbell yang kalah pada debut UFC-nya bulan Maret lalu. "Saya tahu debut saya tidak berjalan sesuai harapan, tetapi saya di sini untuk membuktikan bahwa saya petarung sesungguhnya dan masa depan cerah," ujarnya penuh percaya diri.
Kabar kurang menggembirakan datang dari Nathaniel Wood yang harus mengakui keunggulan Pavel Andrusca lewat keputusan mutlak. Petarung Moldova yang menjadi pengganti mendadak setelah lawan awal Wood mundur sepuluh hari sebelum laga itu justru memperpanjang rekor tak terkalahkannya menjadi sembilan kemenangan beruntun. Kekalahan ini memutus rentetan empat kemenangan Wood sekaligus menjadi tamparan bagi ambisinya naik kelas.
Dari sisi kompetisi, UFC telah mengumumkan laga perebutan gelar kelas terbang putri yang lowong setelah Valentina Shevchenko melepas sabuknya karena cedera yang diprediksi membuatnya absen lebih dari setahun. Natalia Silva dari Brasil akan menantang Wang Cong asal China pada UFC 322 yang digelar di Salt Lake City, 3 Oktober mendatang. Laga ini tidak hanya menentukan juara baru, tetapi juga membuka peluang bagi petarung Asia untuk bersinar di panggung utama UFCโsebuah sinyal bahwa pasar Asia, termasuk Indonesia, semakin dilirik sebagai pangsa penonton potensial.
Dengan berakhirnya era Page di UFC, pertanyaan besarnya adalah: akankah ia mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan penyelesaian akhir yang selama ini menjadi kelemahannya, atau justru memilih jalur baru yang lebih sesuai dengan gaya bertarungnya? Jawabannya akan menentukan apakah ia dikenang sebagai petarung spektakuler yang gagal di panggung terbesar, atau justru menemukan rumah baru yang bisa mengeluarkan potensi terbaiknya.



