Bandara Soekarno-Hatta Lumpuh 8 Jam: Abu Krakatau Bikin 33 Penerbangan Terganggu
Baca dalam 60 detik
- Erupsi Gunung Anak Krakatau memaksa penghentian operasional Bandara Soekarno-Hatta selama delapan jam, dengan 33 penerbangan terdampak hingga Sabtu malam.
- Abu vulkanik yang menyebar hingga ketinggian 50.000 kaki menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan, memicu pembatalan 16 rute internasional.
- Penutupan bandara yang berkepanjangan berpotensi memicu kekacauan jadwal dan kerugian ekonomi, menyoroti kerentanan infrastruktur penerbangan Indonesia terhadap bencana geologi.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, kembali beroperasi setelah ditutup nyaris delapan jam pada Minggu (6/9/2026) dini hari akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyemburkan abu vulkanik hingga ketinggian 50.000 kaki. Penutupan yang berlangsung dari pukul 01.30 hingga 09.30 WIB ini memicu pembatalan puluhan penerbangan dan mengganggu ribuan rencana perjalanan penumpang di gerbang udara utama Indonesia.
Keputusan ekstrem ini diambil setelah uji kertas (paper test) yang dilakukan petugas pada pukul 00.35-01.05 WIB menunjukkan indikasi positif adanya partikel abu di area bandara. Manajemen bandara, melalui Notam A3344/26, memperpanjang status Aerodrome Closed yang sebelumnya hanya direncanakan hingga pukul 05.30 WIB. Langkah ini merupakan protokol standar keselamatan penerbangan, mengingat abu vulkanik dapat menyumbat mesin pesawat dan merusak sistem avionik secara permanen.
Dampaknya terasa luas. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mencatat sedikitnya 33 penerbangan terganggu hingga Sabtu (5/9/2026) pukul 22.00 WIB, dengan 16 di antaranya merupakan rute internasional yang terpaksa dibatalkan. Maskapai seperti Batik Air membatalkan seluruh jadwal pagi dari bandara yang melayani lebih dari 40 juta penumpang per tahun ini. Bandara Radin Inten II di Lampung juga sempat ditutup selama satu jam, mempengaruhi tiga penerbangan domestik Jakarta-Lampung.
Peristiwa ini menggarisbawahi kerentanan sektor penerbangan Indonesia terhadap aktivitas seismik. Gunung Anak Krakatau, yang terletak di Selat Sunda, memang dikenal sebagai gunung api aktif dengan siklus erupsi yang tidak menentu. Letusan besar pada 2018 bahkan memicu tsunami yang menewaskan ratusan orang di Banten dan Lampung. Kini, abu vulkaniknya kembali menjadi momok bagi industri penerbangan yang baru pulih dari pandemi.
Bagi para pelancong dan pelaku industri, kejadian ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya asuransi perjalanan dan fleksibilitas jadwal. Penutupan bandara yang berkepanjangan tidak hanya merugikan maskapai, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok logistik udara yang bernilai miliaran rupiah. Para analis memperkirakan kerugian ekonomi dari pembatalan penerbangan ini bisa mencapai puluhan miliar rupiah, belum termasuk biaya kompensasi penumpang yang diatur dalam regulasi perlindungan konsumen.
Meski operasional bandara telah pulih, pertanyaan besar masih menggantung: akankah erupsi susulan terjadi? Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau, namun hingga kini belum ada pernyataan resmi mengenai status level aktivitasnya. Sejarah mencatat, erupsi gunung ini bisa berlangsung selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, membuat situasi tetap rawan.
Ke depannya, koordinasi antara otoritas bandara, maskapai, dan lembaga vulkanologi menjadi kunci untuk meminimalkan dampak. Apakah industri penerbangan Indonesia perlu mengembangkan sistem peringatan dini yang lebih canggih dan protokol evakuasi yang lebih responsif? Atau justru perlu mempertimbangkan relokasi bandara alternatif di luar jalur sebaran abu? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan seberapa siap Indonesia menghadapi ancaman geologi yang tak pernah benar-benar pergi.



