Anjing Jadi Sahabat Setia Petenis di Tengah Padatnya Tur Dunia
Baca dalam 60 detik
- Fenomena petenis dunia membawa anjing peliharaan dalam tur semakin marak, menjadi penawar stres dan kesepian selama berbulan-bulan di perjalanan.
- Turnamen Grand Slam seperti Prancis Terbuka dan AS Terbuka mulai ramah hewan, menyediakan layanan khusus dan mengizinkan anjing masuk area pemain.
- Kebijakan ketat di Wimbledon dan Australia Terbuka memicu kritik dari petenis top, membuka diskusi tentang kesejahteraan atlet dan hewan di masa depan.

Fenomena anjing peliharaan yang setia menemani para petenis top dunia di sela-sela turnamen semakin menjadi pemandangan umum, dari podium juara hingga area latihan. Hewan-hewan ini bukan sekadar pelengkap, melainkan penopang emosional yang membantu atlet bertahan dari tekanan dan kesepian yang menyertai jadwal padat sepanjang tahun.
Bagi pemain yang menghabiskan sebagian besar waktu di bandara, hotel, dan arena pertandingan yang berjauhan dari rumah, kehadiran hewan kesayangan memberikan kestabilan dan kenyamanan. Petenis peringkat tiga dunia, Jessica Pegula, mengungkapkan bahwa banyak rekan-rekannya kini memilih bepergian dengan hewan peliharaan karena kerasnya kehidupan di sirkuit tenis. "Hewan itu luar biasa... itulah mengapa banyak pemain wanita sekarang bepergian dengan lebih banyak hewan peliharaan, karena betapa sulitnya hidup di jalanan," katanya kepada wartawan di AS Terbuka pekan ini.
Pegula menambahkan bahwa memiliki sesuatu yang membumi, sesederhana anjing atau hewan apa pun, memberikan cinta tanpa syarat yang tidak bisa didapat dari orang lain. "Mereka mencintaimu tanpa syarat dan itu benar-benar membantu secara emosional," ujarnya.
Turnamen Grand Slam pun mulai merespons tren ini. Prancis Terbuka tahun ini meluncurkan layanan "dog concierge" dan memberikan lencana akreditasi resmi untuk sepuluh anjing, menandai sambutan hangat bagi tamu berbulu tersebut. Beberapa hewan bahkan naik ke panggung utama, seperti Mirra Andreeva yang berfoto dengan piala bersama Luna, anak anjing pelatihnya, dan Alexander Zverev yang berbagi sorotan dengan dachshund kesayangannya, Mishka.
Namun, tidak semua turnamen ramah hewan. Australia Terbuka memiliki hukum biosekuriti yang ketat, sementara Wimbledon hanya mengizinkan anjing penolong dan anjing bantuan bersertifikat. Hal ini memaksa pemain seperti Aryna Sabalenka, petenis nomor satu dunia, untuk meninggalkan anak anjing Cavalier King Charles Spaniel-nya, Ash, saat berlaga di All England Club. "Wimbledon, tolong, aku mohon, biarkan anjing masuk," ujarnya pada Juli lalu.
Di AS Terbuka, yang termasuk turnamen ramah hewan, anak-anak anjing dari Muddy Paws Animal Rescue menjadi daya tarik utama di taman pemain selama Fan Week. Bintang-bintang seperti Coco Gauff dan Leylah Fernandez terlihat mengunjungi mereka. Marta Kostyuk dari Ukraina, yang bepergian dengan dua anjingnya, Mander dan Chich, mengatakan bahwa rutinitas merawat hewan memberinya perspektif di tengah tuntutan olahraga profesional. "Kamu merasa jauh lebih membumi, apa pun yang terjadi dalam hidupmu," katanya di Roland Garros. "Kamu harus mengajak mereka jalan-jalan, memberi mereka makan, mereka ada di sana, mereka mencintaimu apa pun yang terjadi."
Pegula sendiri mengaku senang bisa membawa ketiga anjing penyelamatnya, Maddie, Des, dan Mabel, ke berbagai ajang, meski ukuran mereka kadang membuat perjalanan kurang praktis. "Sungguh keren dan spesial ketika kamu bisa melihat ke belakang dan berkata kamu telah memenangkan beberapa gelar dan anjingmu ada di sana bersamamu," katanya. "Bertahun-tahun dari sekarang, ketika anjingku mungkin sudah tidak ada, aku akan selalu memiliki kenangan indah itu."
Fenomena ini juga menyentuh konteks Indonesia, di mana olahraga tenis mulai berkembang dan turnamen internasional seperti Piala Davis atau ajang ITF kerap digelar. Meski belum ada kebijakan khusus, tren ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi penyelenggara turnamen di Tanah Air untuk lebih ramah hewan, seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental atlet. Selain itu, budaya memelihara hewan di Indonesia yang kuat bisa menjadi modal untuk mengadopsi praktik serupa, meski perlu diimbangi dengan regulasi yang jelas.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah turnamen-turnamen besar lainnya akan mengikuti jejak Prancis Terbuka dan AS Terbuka dalam mengakomodasi hewan peliharaan. Dengan semakin banyaknya pemain yang mengandalkan hewan untuk keseimbangan emosional, tekanan pada Wimbledon dan Australia Terbuka untuk melonggarkan aturan mereka kemungkinan akan terus meningkat. Apakah kebijakan ketat itu akan berubah demi kesejahteraan atlet, atau justru memicu perdebatan lebih luas tentang peran hewan dalam olahraga profesional?



