SK Group Chairman Chey Tae-won Diperintahkan Bayar Rp10 Triliun ke Mantan Istri
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan Tinggi Seoul memangkas gugatan cerai Chey Tae-won dari Rp15 triliun menjadi Rp10 triliun setelah banding ke Mahkamah Agung.
- Sengketa berpusat pada saham SK Group yang melonjak berkat bisnis chip AI, serta kontribusi Roh Soh-yeong sebagai ibu rumah tangga dan figur publik.
- Putusan belum final karena kedua pihak masih bisa mengajukan banding ke Mahkamah Agung, berpotensi mempengaruhi preseden pembagian harta di Korea Selatan.

Pengadilan Tinggi Seoul pada Jumat (24/7) memerintahkan taipan semikonduktor Korea Selatan, Chey Tae-won, untuk membayar gugatan cerai sebesar 944 miliar won (sekitar Rp10 triliun) kepada mantan istrinya, Roh Soh-yeong. Angka ini turun drastis dari putusan sebelumnya yang mencapai 1,38 triliun won (Rp15 triliun) pada 2024, setelah Mahkamah Agung memerintahkan peninjauan ulang.
Chey, 65 tahun, adalah ketua SK Group, konglomerat yang menaungi SK hynixโprodusen chip memori terkemuka dunia dan pemasok utama bagi Nvidia, raksasa AI global. Kasus perceraian ini telah menjadi sorotan publik sejak 2017, ketika Chey mengajukan gugatan cerai setelah perselingkuhannya terungkap. Media lokal menjulukinya sebagai "perceraian abad ini" karena nominalnya yang fantastis.
Inti sengketa terletak pada definisi dan valuasi harta bersama, terutama saham Chey di SK Group yang nilainya melonjak berkat booming AI. Pengadilan memutuskan Roh berhak atas sepertiga dari harta bersama pasangan tersebut. "Saham tergugat meningkat secara substansial selama pernikahan melalui aktivitas manajemennya," demikian bunyi putusan pengadilan. "Penggugat berkontribusi pada peningkatan itu melalui pekerjaan rumah tangga, pengasuhan anak, dan kegiatan publik terkait SK Group."
Keputusan ini menarik perhatian karena melibatkan isu kontribusi non-finansial dalam perkawinan. Roh, 65 tahun, adalah putri mantan Presiden Korea Selatan Roh Tae-woo (1988โ1993). Ia menikah dengan Chey di Istana Biru Seoul pada 1988 dan dikaruniai tiga anak. Setelah berpisah, Roh membangun karier di bidang seni dengan mendirikan museum seni digital. Sementara itu, Chey mengakui memiliki anak dari selingkuhannya pada 2015.
Kasus ini memiliki implikasi luas bagi dunia usaha Korea Selatan, terutama terkait pembagian harta dalam perceraian tokoh bisnis. Pengadilan mempertimbangkan lonjakan nilai saham SK Group setelah pasangan berpisah, yang dipicu oleh ledakan AI. "Pengadilan memperhitungkan kenaikan tajam nilai saham tergugat saat menentukan rasio pembagian harta," demikian pernyataan pengadilan. Namun, Mahkamah Agung sebelumnya menolak argumen bahwa dana dari ayah Roh dapat dianggap sebagai kontribusi, karena kemungkinan merupakan hasil suap.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengaturan harta dalam pernikahan, terutama bagi pengusaha dengan aset besar yang nilainya fluktuatif. Di tengah maraknya startup dan perusahaan teknologi yang melantai di bursa, potensi sengketa serupa bisa muncul jika tidak ada perjanjian pranikah yang jelas. Selain itu, putusan ini menunjukkan bahwa kontribusi non-finansial seperti pengasuhan anak dan kegiatan sosial dapat dihargai secara signifikan di pengadilan.
Hingga saat ini, Chey belum memutuskan akan mengajukan banding. Pengacaranya menyatakan bahwa kliennya "sangat menyesali kekhawatiran yang ditimbulkan" oleh kasus ini. Sementara itu, tim hukum Roh menolak berkomentar. Dengan nilai gugatan yang masih bisa berubah, kasus ini berpotensi menjadi preseden penting dalam hukum keluarga Korea Selatan, khususnya terkait valuasi saham perusahaan publik dalam pembagian harta bersama.



