Korban Penipuan Kursus Bahasa Arab Berbonus Umrah Rugi Rp750 Juta, Lapor ke Bareskrim
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak sembilan korban melaporkan dugaan penipuan dan penggelapan dana kursus bahasa Arab yang diiming-imingi bonus umrah, dengan total kerugian mencapai Rp750 juta.
- Modus pelaku adalah mengaku bekerja sama dengan universitas di Madinah dan menjanjikan pemberangkatan umrah, namun setelah biaya lunas, peserta tidak kunjung diberangkatkan.
- Kasus ini menyebar di berbagai daerah di Indonesia, menunjukkan perlunya kewaspadaan terhadap tawaran kursus dan ibadah yang tidak masuk akal.

Sebanyak sembilan orang yang mengaku sebagai korban penipuan dan penggelapan dana kursus bahasa Arab yang dijanjikan bonus umrah resmi melaporkan kasus ini ke Bareskrim Polri pada Jumat (24/7). Total kerugian yang dilaporkan mencapai Rp750 juta, dengan korban tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia.
Laporan diterima dengan nomor LP/B/325/VII/2026/SPKT/Bareskrim Polri, yang diajukan oleh Dimas Yemahura Alfaro selaku kuasa hukum para korban. Pihak yang dilaporkan adalah MDD, pemilik PT. Mecca Karya Indonesia, yang menjalankan lembaga pendidikan Mecca Al Arabiya Course. Menurut Dimas, modus yang digunakan adalah menawarkan program kursus bahasa Arab di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, yang disertai bonus pelaksanaan umrah. Para korban berasal dari berbagai wilayah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan, Riau, dan Lombok.
Untuk meyakinkan calon peserta, pihak kursus mengklaim telah bekerja sama dengan sebuah universitas di Madinah. Mereka juga menjanjikan bahwa peserta akan mendapatkan kesempatan beribadah umrah selama mengikuti pelatihan. Biaya yang dibebankan bervariasi, mulai dari Rp48,5 juta hingga Rp118 juta, tergantung durasi pelatihan. Namun, setelah dana dilunasi, para korban tidak kunjung diberangkatkan.
Salah satu korban, Muhsin Budiono, mengaku tergiur mendaftarkan anaknya karena ingin memperdalam bahasa Arab di Universitas Islam Madinah. Ia membayar Rp61,5 juta untuk program 30 hari yang dijadwalkan berangkat pada Agustus 2025. Namun, hingga H-3 keberangkatan, pihak kursus tidak kunjung memberikan visa atau tiket pesawat. Ketika ditanya, mereka hanya menjanjikan penjadwalan ulang, tetapi hingga kini tidak ada realisasi. "Ketika kita tanya visanya seperti apa, udah turun apa belum mereka enggak bisa menjawab, mereka hanya mengatakan ini reschedule, diganti jadwalnya diundur, nanti akan diganti jadwal berikutnya, tapi sampai hari ini tidak berangkat," keluh Muhsin.
Korban lain, Ni Putu Titin, mengalami nasib serupa. Pihak kursus membatalkan keberangkatannya dengan dalih kuota belum terpenuhi dan kondisi perang di Timur Tengah. Ia kemudian dijadwalkan ulang pada Desember 2025. Namun, saat tiba di bandara, itinerary yang diberikan ternyata palsu. "Dialihkan keberangkatan ke Desember. Sudah diterbitkan itinerary kemudian sudah disuruh berkumpul di hotel transit di airport tanggal 19 tengah malam, tapi itinerarynya itu ternyata hoaks," ujarnya.
Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap tawaran program kursus atau perjalanan ibadah yang terlalu menggiurkan. Polisi kini tengah menyelidiki dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh PT. Mecca Karya Indonesia. Pertanyaan yang mengemuka: apakah modus serupa masih akan terulang, mengingat banyaknya korban dari berbagai daerah?



