Robot Humanoid China Mulai Gantikan Pramusaji dan Kasir: Siapkah Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- China memamerkan lebih dari 300 produk robot humanoid di World AI Conference Shanghai, yang kini mampu melayani hotel dan toko ritel secara mandiri.
- Ekspor robot bionik China mencapai 10.000 unit ke 90 negara pada semester I 2026, didorong oleh kelengkapan rantai industri dalam negeri.
- Indonesia perlu mengantisipasi dampak adopsi robot humanoid di sektor jasa, terutama pada tenaga kerja hotel dan ritel.

Shanghai, Juli 2026 — Robot humanoid tidak lagi sekadar atraksi panggung. Dalam gelaran World AI Conference di Shanghai, 17–20 Juli lalu, sejumlah perusahaan China menunjukkan bahwa robot-robot itu kini mampu melayani tamu hotel, merapikan cucian, hingga melayani pembeli di toko kelontong. Langkah ini menandai akselerasi komersialisasi kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya hanya terbatas pada lingkungan pabrik.
Keenon Robotics, salah satu perintis robot servis di China, memperkenalkan XMAN-R1 yang tengah diuji coba di sejumlah hotel. Robot ini bisa berjalan menuju kamar, mengumpulkan seprai kotor, membawanya ke ruang cuci, dan melipatnya setelah dicuci. Menurut Chief Operating Officer Keenon Robotics, Wan Bin, robot dirancang sebagai pelengkap tenaga manusia, bukan pengganti. "Robot dapat mengisi jam istirahat staf dan memperpanjang jam operasional. Mereka adalah mitra komplementer," ujarnya.
Data resmi menunjukkan China kini memiliki sekitar 140 produsen robot humanoid dengan lebih dari 400 model lengkap. Pada paruh pertama 2026, negara itu mengekspor lebih dari 10.000 robot bionik—mesin yang menyerupai manusia atau hewan—ke 90 negara. Pasar utama adalah negara maju seperti AS, Eropa, Jepang, dan Korea Selatan, yang mengalami kekurangan tenaga kerja dan biaya staf tinggi.
Sektor ritel juga mulai diramaikan robot. SenseTime, raksasa AI China, telah mengoperasikan 20 kios SenseMart Go yang dilayani robot humanoid. Robot tersebut menyapa pelanggan dengan jabat tangan, mengambil pesanan, dan merapikan rak. Liu Hengyi, CTO SenseTime SmartGo, mengklaim setiap toko bisa mencapai titik impas dalam waktu sekitar setahun. "Ke depannya, kami ingin pelanggan bisa masuk dan berinteraksi lebih dekat dengan robot," katanya.
Namun, adopsi robot humanoid masih terbatas pada lingkungan terkontrol seperti restoran, hotel, dan gedung perkantoran. Wan Bin mengakui bahwa perlu lebih banyak penyempurnaan sebelum robot bisa beroperasi di ruang terbuka yang kompleks. Meski begitu, industri ini tengah dalam fase pertumbuhan tinggi dengan investasi masif.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membawa implikasi serius. Sektor perhotelan dan ritel di Tanah Air masih mengandalkan tenaga kerja manusia dalam jumlah besar. Jika biaya robot humanoid terus turun—seperti yang terjadi di China—bukan tidak mungkin hotel dan minimarket di Jakarta, Bali, atau Surabaya mulai mengadopsi teknologi serupa dalam 3–5 tahun ke depan. Pemerintah dan pelaku usaha perlu menyiapkan strategi reskilling tenaga kerja agar tidak tergerus otomatisasi.
Presiden China Xi Jinping dalam pidato pembukaan konferensi menekankan pentingnya tata kelola AI global dan mengumumkan program pelatihan AI untuk negara berkembang. Indonesia bisa memanfaatkan peluang ini untuk memperkuat kapasitas riset dan regulasi AI nasional. Pertanyaannya, seberapa cepat Indonesia siap menyambut era robot humanoid?



