Philipsen Akhirnya Menang di Tahap 17, Perebutan Green Jersey Makin Panas
Baca dalam 60 detik
- Jasper Philipsen memenangi etape 17 Tour de France setelah melewati 12 etape frustrasi tanpa kemenangan.
- Kemenangan ini memangkas jarak poin dengan pemegang green jersey Mads Pedersen menjadi hanya tujuh angka.
- Tiga etape pegunungan Alpen akan menjadi penentu apakah Philipsen bisa merebut green jersey di Paris.

Jasper Philipsen akhirnya memecah kebuntuan di Tour de France tahun ini. Pembalap Belgia berusia 28 tahun itu memenangi etape 17 yang berlangsung dari Chambery ke Voiron, Rabu (17/7/2024), setelah melewati separuh balapan tanpa satu pun kemenangan. Kemenangan ini tak hanya melegakan Philipsen secara pribadi, tetapi juga menghidupkan kembali persaingan perebutan green jersey—jaket hijau untuk pemimpin klasemen poin—yang kini hanya berselisih tujuh angka.
Philipsen, yang mengendarai Alpecin-Premier Tech, mengandalkan kekuatan timnya dalam sprint massal. Ia mendapat pengawalan sempurna dari Mathieu van der Poel, rekan setim yang sebelumnya justru menjadi penyebab kekesalannya di etape ketujuh. Saat itu, Van der Poel salah mengatur tempo sehingga Philipsen terjebak dan gagal bersaing. Namun di etape 17, kerja sama mereka berjalan mulus. Philipsen melesat di garis finis dengan jarak cukup jauh dari lawan-lawannya, mencatat waktu 3 jam 41 menit 13 detik.
“Ini roller-coaster emosi yang luar biasa,” ujar Philipsen seusai balapan. “12 etape pertama sangat mengerikan—saya tidak bisa menemukan diri saya sendiri, tidak bisa merasakan apa yang saya harapkan. Setelah 17 etape, akhirnya menang. Ini untuk tim yang terus percaya pada saya.” Ia mengaku setiap malam seperti “burung marah” di meja makan karena kecewa dan frustrasi.
Kemenangan ini membuat Philipsen naik ke posisi kedua klasemen poin dengan 312 angka, hanya tertinggal tujuh poin dari Mads Pedersen (Lidl-Trek) yang finis kedelapan di etape ini. Pedersen masih memegang green jersey, tetapi jarak yang tipis membuat segalanya mungkin terjadi di etape terakhir di Paris, Minggu mendatang. Etape itu akan dimodifikasi dengan memasukkan tanjakan pendek di Montmartre, yang bisa mengubah dinamika sprint.
Sementara itu, persaingan yellow jersey—jaket kuning untuk pemimpin klasemen umum—tidak banyak berubah. Tadej Pogacar (UAE Team Emirates-XRG) finis di tengah peloton, nyaris sembilan menit di belakang pemenang etape. Pogacar masih unggul 4 menit 32 detik atas Remco Evenepoel (Red Bull-Bora-Hansgrohe) dan 6 menit 51 detik atas rekan setimnya, Isaac del Toro. Namun, kabar buruk datang dari Adam Yates, salah satu domestik kunci Pogacar, yang mengalami sakit dan finis lebih dari 26 menit di belakang. Tim akan menilai apakah Yates bisa melanjutkan balapan mengingat tiga etape berat di Alpen dimulai Kamis.
Di luar persaingan di jalan raya, isu doping kembali mencuat. Badan pengatur balap sepeda internasional (UCI) merilis pernyataan yang membela tes doping dadakan pada dini hari yang dilakukan Badan Tes Internasional (ITA) pada Sabtu lalu. Tes tersebut menyasar Jonas Vingegaard, rival utama Pogacar, yang diuji pada pukul 02.00 pagi dan kemudian mengalami kecelakaan di etape berikutnya. UCI menegaskan bahwa tes malam adalah tindakan luar biasa untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu perang melawan doping. “Kami sepenuhnya sadar bahwa tes malam mengganggu istirahat pembalap, tetapi ini demi kredibilitas olahraga,” demikian pernyataan UCI.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, persaingan green jersey yang ketat antara Philipsen dan Pedersen menjadi tontonan menarik. Keduanya sama-sama sprinter murni, namun Pedersen lebih konsisten di etape pegunungan. Jika Philipsen bisa mempertahankan momentumnya, ia berpeluang merebut green jersey keduanya setelah 2023. Namun, tiga etape Alpen yang berat bisa menjadi batu sandungan. Apakah Philipsen mampu bertahan di tanjakan, atau justru Pedersen yang akan memperlebar jarak? Jawabannya akan diketahui dalam beberapa hari ke depan.



