Marco Brenner Ukir Sejarah di Vuelta: Kemenangan Perdana Tudor di Grand Tour, Mas Kokoh di Puncak
Baca dalam 60 detik
- Pembalap Jerman, Marco Brenner, memenangi etape 14 Vuelta a Espana setelah duel sengit dengan Santiago Buitrago di tanjakan Sierra de La Pandera, sekaligus menjadi kemenangan Grand Tour pertama bagi timnya.
- Enric Mas mempertahankan jersey merah dengan menambah keunggulan atas Primoz Roglic menjadi lebih dari dua menit, sementara Felix Gall naik ke posisi kedua klasemen.
- Kemenangan ini menegaskan kebangkitan Brenner setelah sakit dan cedera, serta memberi sinyal persaingan ketat di pekan terakhir Vuelta.

JAEN, Spanyol โ Marco Brenner, pembalap asal Jerman, mencatatkan namanya dalam buku sejarah Vuelta a Espana setelah memenangi etape 14 yang menuntut pendakian ekstrem ke Sierra de La Pandera, Sabtu (5/9). Kemenangan ini bukan hanya yang pertama bagi Brenner di ajang Grand Tour, tetapi juga menjadi tonggak bersejarah bagi tim Tudor Pro Cycling yang baru pertama kali merasakan manisnya kemenangan etape di salah satu balapan terbesar dunia.
Etape sepanjang 154,5 kilometer dari Jaen ini menyajikan drama yang menegangkan. Brenner, yang sempat tertinggal di belakang pemimpin balapan Santiago Buitrago asal Kolombia, melancarkan serangan pamungkas pada 500 meter terakhir. Dengan gigi terkatup, ia melesat meninggalkan Buitrago di tanjakan terjal, sebuah aksi yang langsung mengingatkan para penggemar pada gaya para pendaki legendaris. "Saya masih tidak percaya," ujar Brenner seusai balapan. "Saya sempat sakit dan mengalami kecelakaan di awal balapan, tapi saya benar-benar ingin menunjukkan kemampuan saya, baik untuk diri sendiri maupun rekan setim."
Di sisi lain, persaingan memperebutkan jersey merah justru berjalan lebih tenang. Enric Mas, pembalap tuan rumah yang memperkuat Movistar, tidak ikut bertarung untuk kemenangan etape. Namun, ia justru memperlebar jarak dengan rival terdekatnya. Mas finis 25 detik di depan Primoz Roglic (Red BullโBoraโHansgrohe), yang harus rela turun ke posisi ketiga klasemen umum. Sementara itu, Felix Gall dari Austria yang tampil impresif, menyelesaikan etape bersama Mas dan berhasil naik ke peringkat kedua, meski masih tertinggal 2 menit 6 detik dari pemimpin klasemen.
Kemenangan Brenner menjadi sorotan utama karena ia berhasil mengalahkan Buitrago dalam duel sengit di lima kilometer terakhir. Sebelumnya, Kevin Vermaerke sempat melarikan diri sendirian dengan keunggulan hampir tujuh menit, namun aksinya berhasil diredam oleh kelompok pengejar yang dipimpin Cristian Rodriguez. Rodriguez, yang juga pembalap Spanyol, finis ketiga dan memangkas jarak dengan Mas menjadi lebih dari empat menit, sekaligus mengangkatnya ke posisi delapan klasemen umum.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, Vuelta a Espana memang bukan ajang yang sepopuler Tour de France, tetapi tetap memiliki daya tarik tersendiri. Etape pegunungan seperti ini sering menjadi penentu bagi para pembalap yang mengincar gelar general classification. Keberhasilan Brenner juga menjadi inspirasi bahwa kerja keras dan ketekunan bisa mengalahkan keterbatasan, sebuah pesan yang relevan bagi atlet muda Indonesia yang tengah mengembangkan karier di kancah internasional.
Mas, yang sempat mengalami masalah mekanik dan harus berhenti sejenak, tetap tenang dan memilih bertahan di dalam peloton hingga tanjakan terakhir. Strategi ini terbukti efektif. Saat memasuki kilometer-km terakhir, Mas melancarkan akselerasi yang hanya mampu diikuti oleh Gall. Roglic, yang sebelumnya tertinggal 1 menit 45 detik, tidak mampu mengejar dan semakin tertinggal. "Saya membuat pergerakan, Santiago melewati saya, tapi saya bisa mengejar dan akhirnya mengalahkannya di sprint," kata Brenner. "Hari-hari seperti inilah yang membuat kami hidup sebagai pembalap."
Dengan sisa beberapa etape lagi, persaingan menuju Madrid masih terbuka. Mas terlihat semakin percaya diri, namun Gall dan Roglic dipastikan tidak akan menyerah begitu saja. Etape 15 yang akan digelar Minggu (6/9) menempuh rute sepanjang 181,2 kilometer dari Palma del Rio ke Cordoba, yang meski tidak seberat etape 14, tetap menyimpan potensi kejutan. Akankah Mas mampu mempertahankan jersey merah hingga akhir, atau justru ada pembalap lain yang mampu merebutnya? Balapan masih panjang, dan segalanya bisa terjadi di Vuelta tahun ini.



